Namitsutiti

Suzy The Vice President [Chapter 1]

8 Comments


ww

Tittle » Suzy The Vice President

Author » Namitsu Titi

Cast » Bae Suzy [Miss A], Kim Myungsoo [Infinite]

Genre » School-life, litte bit humor and romance.

Rate » PG-14

Disclaimer » Semua cast milik orang tuanya masing-masing dan Tuhan YME. Popularitas Cast milik agency dan diri nya masing-masing. Tapi, alur cerita milik saya.

© 2014 Namitsu Titi

.

~Happy Reading~

.

.

.

.

.

‘Tuk! … tuk! … tuk!’

seorang gadis dengan lambang Vice President Council di kerah blazer sebelah kiri, mengetuk-ngetukkan tongkat yang dipegangnya ke lantai. Menambah hawa tegang mencengkam di ruangan itu-Council Room.

Perlahan tapi pasti, gadis itu melangkahkan kaki jenjangnya untuk memutari sang ‘tersangka’ yang duduk manis-ketakutan-di kursi ‘persidangan’ sambil mengetukkan tongkat tersebut. Kedua bola matanya tak berhenti untuk menatap nyalang sang ‘mangsa’, namun sesekali ia berhenti sejenak untuk menyibakkan rambut pirang panjangnya dengan gaya anggun.

 

Sudah sepuluh menit gadis itu melakukan ‘aksi’ tersebut, tapi kemudian seseorang mengintrupsinya.

“Suzy, hentikan tingkah anehmu!” hardiknya. Well, sebenarnya ia sudah tak tahan dengan tingkah aneh Suzy-berjalan memutari ‘tersangka’. Apakah tidak lelah? Itulah yang ada di otaknya.

 

Seketika Suzy-gadis itu-menghentikan ‘aksinya’. Ia menggeram sejenak, kemudian berbalik, menghadap pada seorang pemuda yang mengganggunya untuk menciptakan suasana menegangkan.

Suzy melangkahkan kakinya mendekati pemuda itu-yang tengah duduk di kursinya dengan tampang se-cool mungkin-hingga meninggalkan suara yang cukup keras dari sepatunya.

“Kau bilang apa, Kim Myungsoo?!” sentaknya, menekan kata Kim Myungsoo. Tongkatnya ia todongkan ke depan wajah Myungsoo.

“Kenapa? Kau memang aneh, bodoh! Tak ada gunanya kau berjalan mondar-mandir seperti itu. Membuang waktu saja!” Myungsoo mengambil kasar tongkat yang tertodong padanya, kemudian membuangnya asal, hingga terdengar bunyi nyaring, membuat sang ‘tersangka’ terlonjak dari kursinya.

“Cepat kerjakan tugasmu!” titah Myungsoo tegas. Sang ‘tersangka’ menelan ludahnya kasar.

Suzy berdecak sebal, “Selalu seenaknya!” gerutunya, lalu mendekati ‘tersangka’. Cih, mentang-mentang President Council.

 

Myungsoo memasang headset-nya saat Suzy akan memulai ‘aksinya’. Mata elangnya turut terpejam kala musik yang bersumber dari I-Pod nya terdengar. Tangannya bersidekap di depan dada, menambah kesan cool-katanya.

 

“Lee Sungjong …,” ujar Suzy setelah membaca name tag di baju seragam adik kelasnya yang menyandang status ‘tersangka’ di ruangan ini.

Perlahan Sungjong mengangkat kepalanya was-was. “N-ne … Sunbae.…”

“Mmm …,” Suzy bergumam, kemudian menyangga dagunya dengan tangan tangan kiri yang bertumpu di meja kecil sebatas dada.

“Sungjongie~ mengapa melakukan itu, eoh? Jongie pasti sudah tahu ‘kan, kalau sekolah kita itu berbasis kedisplinan yang tinggi?” Suzy berbicara dengan amat lembut, membuat Sungjong terbuai karenanya.

Ne, Sunbae. Saya tahu,” sahut Sungjong yang sudah hilang rasa gugupnya.

“Lalu … KENAPA KAU MELANGGARNYA, EOH?!-” Sungjong langsung terlonjak di kursinya, dan ia segera menundukkan kepalanya lagi, “-kau ingin cari mati, HAH?!! KAU! LEE SUNGJONG … siswa kelas 1-F, melanggar peraturan, dengan membolos!!!-” Sungjong semakin erat memejamkan matanya, “-lebih dari tiga kali dan merokok di atap sekolah! Mau jadi apa kau!” gertak Suzy yang tiba-tiba saja berubah 180 derajat.

 

‘BRAKK …!!!’

 

Suzy menggebrak keras meja di hadapannya, membuat Sungjong hampir terjungkal dari kursinya. “JAWAB!! Cengeng!” teriak Suzy. Kemarahan tercetak jelas di matanya.

Bukannya menjawab, Sungjong malah mengusap air matanya. Jujur, ia sangat kaget dengan apa yang telah dilakukan sunbae-nya. Beruntung ia tidak memiliki kelainan jantung.
Sungjong pernah mendengar dari teman-temannya yang memiliki ‘kriminal’ yang sama dengannya, mengatakan bahwa yang diberatkan atas pelanggaran bukan dari segi hukuman, melainkan dari yang memberinya. Bersikap lembut di awal hingga terbuai, tapi kemudian di hempaskan begitu saja.

 

‘BRAKKK …!!!’

 

JANGAN DIAM SAJA!! kau tidak tuli, KAN!” Sungjong mengusap lagi air matanya.

Sungjong baru akan mengeluarkan suara dari bibirnya yang bergetar, tapi Suzy menggertak lagi.

 

‘BRAK …!’

 

“Selama ini aku bersabar dengan tingkahmu karena kau masih siswa baru, namun makin hari bukannya berubah, tapi kau malah makin merajalela! KAU SADAR TIDAK, HAH?!!

“M-maaf … S-sunbae … s-saya … t-tidak akan mengulangnya lagi …hiks….,” lirihnya dengan suara bergetar. Rasanya ia ingin pingsan saja.

Suzy menghirup kasar udara di sekitarnya, sebelum bersuara lagi. Berteriak membuatnya kehabisan tenaga, tapi juga menyenangkan HAHA!!! “Dengar, Lee Sungjong! Jika kau mengulanginya lagi … bersiaplah, aku akan memburumu!! Sekarang, silakan keluar dari sini!”

Sungjong bergidik mendengarnya. Begini saja sudah cukup baginya. Yeah, Suzy memang serius dengan omongannya. Temannya pernah ada yang diburu hingga dia trauma jika bertemu dengan Suzy.
Mencaci maki dan berteriak. Itu yang dimaksud dengan cara berburunya. Dan entah mengapa, siswa berandal pun takluk jika mendengar teriakan Suzy. Mereka mengatakan bahwa teriakan Suzy begitu menusuk-meskipun tidak mengandung kata-kata kotor-dan dianggap seperti panggilan kematian.

“Hiks … n-ne …,” lirihnya, kemudian keluar dari ruangan itu dengan langkah cepat.

 

Suzy menghempaskan bokongnya di kursi empuk miliknya. Tangannya meraih gelas yang terisi air mineral di atas meja, lalu meneguknya hingga tersisa seperempat gelasnya.

“Aku mengkhawatirkan jika pita suaramu putus,” intrupsi Myungsoo, masih memejamkan matanya.

Suzy berdecih mendengarnya, “Daripada kau, yang hanya bisa menyuruh,” ketusnya.

Myungsoo membuka matanya, kemudian melepas headset berwarna putihnya. Ia tolehkan kepalanya pada Suzy, “Kenapa? Itu adalah hakku. Tanpa menyuruhmu pun, aku bisa melakukannya dengan cara kerenku. Apalagi jika ‘tersangkanya’ wanita, mereka akan langsung menurutiku dikarenakan feromon ketampananku haha….”

“Oh, yah?” Suzy menaikkan sebelah alisnya, memasang tampang mengejek sebaik mungkin.

Myungsoo mengangguk, “He’um. Tapi sayang, sejauh ini belum ada siswi yang berbuat ‘kasus’.” Myungsoo bangkit dari kursinya dan berjalan meninggalkan ruangan.

“Aku ke kelas duluan!” Suzy mendengus, lalu meminum lagi airnya.
.
.
.
.
Suzy menghela napas lega. Akhirnya kelas usai juga. Seharian ini cukup melelahkan untuknya. Mengurus proposal untuk kegiatan sekolah bulan depan, mendisplinkan siswa-siswa yang nakal, dan sialnya, Myungsoo hanya melakukan yang enak-enak saja. Hahhh … sekarang ia tidak bisa untuk langsung pulang karena ia harus melaksanakan piket dulu.

“Fei, Jia, Sungyeol!” seru Suzy dari tempat duduknya.

Fei yang baru membereskan peralatan menulisnya, Jia yang masih mencatat-ia lelet kalau menulis, makannya ketinggalan-dan Sungyeol yang tengah bersalto ria, serempak menoleh ke arah Suzy.

Ne?” sahut mereka bersamaan.

“Jangan lupakan untuk piket!”

“Oh, ne!”

 

Suzy baru akan mengambil sapu, tapi ia langsung teringat sesuatu. Matanya menelisik isi kelasnya. Tak lama, ia menggeram kesal saat tak menemukan apa yang dicarinya. “Sungyeol! Kau melihat Myungsoo?”

“Tidak, Suzy,” sahut Sungyeol tanpa menghentikan acara bersih-bersih papan tulisnya.

“Grrrr … awasss kau, Myungsoo!” Suzy menggeram tertahan.

Tidak ingin membuang banyak waktu lagi-takut kalau Myungsoo sudah kabur duluan, Suzy dengan cepat keluar dari kelasnya. Sumpah serapah ia layangkan untuk pemuda malang itu.

Dengan tak sabar, Suzy lemparkan pandangannya ke arah halaman dan sekitar gerbang sekolah, sementara ia berdiri di dekat tembok pembatas-di depan kelas. Kedua tangannya mengepal menahan kesal. Ugh, rasanya Suzy ingin meremasnya hingga menjadi bulatan kecil, lalu melemparkannya ke kutub utara!

 

“Hoya, kau melihat Myungsoo?” yang ditanya hanya menggeleng.

‘Aishh … Myungsoo~ dasar, tidak bertanggung jawab!’ sungutnya.
Suzy akhirnya kembali ke kelas lagi, namun tak lama keluar lagi, dan….

 

GOT YOU!! Hahaha….

 

Suzy dengan semangat mendekati Myungsoo yang tengah berbicara dengan seorang gadis, di depan kelas 2-C. “Myungsoo~ aku mencarimu! Kemana saja kau? Sekarang … pikettt!!” Suzy langsung saja menyeret Myungsoo dengan menarik tas punggungnya, yang berefek Myungsoo berjalan membelakangi, dan posisi tubuh belakang Myungsoo terhuyung pada Suzy.

“Disaat yang lainnya piket-” Myungsoo melambai-lambaikan tangannya ke arah gadis tadi sembari menyengir bodoh, “-kau malah bersenang-senang?! Dasarrr …!” Suzy semakin kuat menarik tas Myungsoo. “Huuu … bisa-bisanya mereka memilihmu menjadi President Council jika tingkahmu saja seperti ini!-” sempat-sempatnya Myungsoo menebar-nebar senyum sok cool-nya pada gadis tadi, “-bagusan Woohyun, yang cocok mendapatkan jabatan itu.”

What?! Woohyun?-” Myungsoo berdehem sejenak. Kini Suzy sudah melepaskan dirinya, “-aku ini tampan! Tentu saja mereka memilihku. Apaan si Woohyun itu! Dia cuma tebar-tebar pesona begitu.”

“Cih, seperti kau tidak saja!” Suzy melempar sebuah ember berukuran sedang ke depan kaki Myungsoo. “Cepat ambilkan air, sana!”

Gerutuan-gerutuan kecil keluar dari bibir sexy Myungsoo saat ia mengambil ember itu.
Menunggu Myungsoo kembali ke kelas, Suzy membantu temannya menyapu kelas.
.
.
Ketika Myungsoo sudah tiba di kelas, Suzy langsung menyodorkannya dengan alat pengepel.

“Kau juga harus mengepel!” Myungsoo langsung menganga kala Suzy menyuruhnya. Padahal ia baru saja mengusap peluh di dahinya.

Ya, Tuhan, mengambil air saja harus melalui perjuangan dulu. Toilet di di lantai dua-area kelasnya-tidak ada air dan ia harus turun tangga menuju lantai pertama untuk mengambil air. Tapi sebenarnya ini kebodohannya juga, mengapa ia harus repot-repot mengisi ember sampai hampir penuh begitu?

Mwo? Suzy, tidak usah saja, ya? Aku ‘kan sudah mengambil air sampai-“

“Bukan urusanku!”

“Aishh … tapi bagaimana jika ada yeoja lain yang melihatku mengepel? Ugh … tidak keren-“

“Grrr … hentikan omongan tak bermutumu! Cepat … ngepelll …!” Suzy menghentakkan kakinya kesal. Demi apaaa … Myungsoo itu namja ternarsis-setelah ayahnya-yang pernah ia temui di belahan bumi ini.

“Aishh … iya! Iya!”
.
.
“Sudah, tuh! Aku mau pulang.”

Suzy melirik hasil pekerjaan Myungsoo, “Sudah apanya? Itu masih kotor, Myungsoo!”

“Ah~ kau saja yang bersihkan, ne?” ujarnya, seraya berjalan keluar.

“Aishh! Ya sudah! Kau jangan pulang dulu. Antar aku pulang!” teriak Suzy sambil memeras kain pel nya.

“Iya, cerewet.”
.
.
.
.
“Jangan memegangku seerat itu,” sergah Myungsoo, merasa jengah pada seorang gadis yang duduk di belakangnya.

“Oh, maaf!” Suzy langsung mengendurkan pelukannya pada perut Myungsoo. “Oh ya, Myungsoo. Kita ke minimarket dulu. Persediaan dapurku habis.”

Ye.” Myungsoo segera melajukan motornya, meninggalkan area sekolahnya, KMS High School.
.
.
.
.
“Ayolah Myungsoo, bawa troli itu ke sisiku.” Dengan malas, Myungsoo mendorong trolinya menuju Suzy.

Suzy langsung menaruh sayur-sayur yang dipilihnya ke dalam troli.
Brokoli, tomat, kol, wortel, terung (?), ia masukkan ke dalam sana.

 

“Suzy?” tiba-tiba seorang pemuda yang tengah memegang troli belanjaan, menyapa Suzy.

Suzy segera menoleh pada pemuda tersebut, “Woohyun?”

‘Sial!’ umpat Myungsoo dalam hati.

“Bagaimana kabarmu? Kau sudah sehat?” tanya Suzy sembari memperhatikan kondisi fisik Woohyun.

‘Cih, sudah bugar begitu pake ditanya lagi?!’-Myungsoo

Ne! Kau lihat sendiri, kan? Aku sudah sehat!” Woohyun tersenyum lebar seraya menepuk dadanya. Bangga mungkin.

 

Ya, sudah seminggu ini Woohyun tidak berangkat ke sekolah dikarenakan sakit, hingga beberapa kali absen di pertemuan OSIS. Dia juga anggota di sana.

 

Myungsoo langsung menyeret Suzy menuju kasir. Well, ia tak rela jika harus berlama-lama di dekat Woohyun. Ia memiliki dendam kesumat (?) pada Woohyun. Asal tahu saja, saat liburan sekolah sekolah tahun lalu, ketika mereka berlibur ke pantai, dengan teganya Woohyun melorotkan kolor (?) Myungsoo. Mana teman-teman sekelasnya-yeoja-sedang berkumpul di dekatnya, dan ya Tuhan … itu memalukan sekali!

Selain itu, jika ia sedang mengobrol dengan yeoja-yeoja, Woohyun selalu mengganggunya, mengalihkan topik yang sedang dibicarakan dan akhirnya mereka-yeoja-memilih mengobrol dengan Woohyun, sekaligus mengacuhkannya. Dia juga sering tebar-tebar pesona saat ia sedang di dekat yeoja-yeoja.

Arrrhhh … Woohyun sialannn!!

Ugh, jangan sampai, Woohyun mengambil alih perhatian Suzy juga!

 

Hahaa … kalian berpikir jika aku menyukai Suzy, eoh? Eummm … wae? Wae memangnya kalau benar, eoh? Kalian mau berteriak padaku, memarahiku, dan menangis? Karena aku menyukai Suzy, eoh? Ya … ya … aku tahu, aku ini tampan, makannya kalian tidak suka ‘kan, kalau aku bersama Suzy? Tapi kalau kalian mau, aku menerima kok, kalau kalian menjadi yang kedua di hatiku-Myungsoo menatap genit pada readers-tapi jika Suzy Baby mengizinkan hahaa….
.
.
“Kau apa-apaan sih? Menyeretku seenakmu!” gerutu Suzy. Kini keduanya sudah keluar dari minimarket.

“Aishh … aku lelah. Aku ingin cepat pulang.”

No, no, no. Habis ini kita harus pergi ke kedai ramen, aku lapar. Kemudian kita ke perpustakaan umum. Kau lupa, kita punya tugas sejarah.”

Hahhh … Myungsoo menurunkan pundaknya, lesu. “Ne~” Dan akhirnya Myungsoo mengalah.
.
.
.
.
~Perpustakaan umum, 6:27 PM~

 

“Geser sana~ kau membuatku gerah.” Suzy mendorong bahu Myungsoo-dengan tangan kanannya-yang awalnya menempel padanya.

“Kalau aku menjauh, bagaimana aku mencermatinya?” Myungsoo menatap malas pada Suzy. Kalau bukan hanya tersisa satu, ia juga akan meminjamnya sendiri-tapi modus sebenarnya.

“Menggeser sedikit juga masih bisa, kan?” Suzy menatap Myungsoo jengah.

Myungsoo mendengus, “Oke, oke.” Myungsoo menggeser sedikit tubuhnya.

 

Suzy dan Myungsoo, keduanya berada di perpustakaan ini sudah hampir satu jam setengah, setelah mereka mampir di kedai ramen dekat minimarket tadi. Dan Suzy menghabiskan tiga mangkok ramen berukuran sedang, cukup membuat Myungsoo merinding karenanya. Entah dia maniak ramen atau apa, Myungsoo juga tak mengerti.

Yak!-” Suzy meninju bahu Myungsoo yang tengah memandangi gadis-gadis di depan keduanya, “-bukan saatnya bermata keranjang!”

Myungsoo mendelik ke arah Suzy, “Apa? Aku bosen menunggumu yang lelet menulis. Makannya aku mencari penyejuk.” Dan Suzy berdecih mendengarnya.

“Cepat selesaikan! Kita harus segera pulang.” Myungsoo berdecak, kemudian menulis lagi.
.
.
.
.
Suzy turun dari motor Myungsoo dengan menekan kedua pundak pemuda itu, sebagai pegangannya.

“Sini, belanjaanku!” Myungsoo menyerahkan sekantung plastik belanjaan berukuran cukup besar pada Suzy.

“Sana, kau pulanglah. Terimakasih untuk tumpangannya.”

 

Myungsoo terdiam sejenak, kemudian, “Kemari, aku akan memberimu salam perpisahan dulu,” ujarnya, seraya menarik kerah seragam Suzy ke arahnya.

Yak! Dasar genit! Pervert!” responnya, setelah menoyor kening Myungsoo.

“Oh ya sudah kalau tidak mau. Aku menginap di apartemenmu saja.” Myungsoo menaik turunkan alisnya.

Mwo? Andweee …! Sudah sana pergi! Kau banyak maunya!” Suzy menatap kesal pada makhluk aneh di hadapannya ini.
Suzy segera berbalik, meninggalkan Myungsoo, tapi kemudian tidak jadi saat ia mendengar suara….

 

Hallo, Eomma. Malam ini aku menginap di Apartemen Suzy lagi, ne?”

[Ck, baiklah. Kau jangan berbuat yang macam-macam padanya dan jangan merepotkan!]

Ne, ne, Eomma. Aku mengerti. Biasanya juga tak mengecewakan Eomma, kan?” Myungsoo mendengar sang eomma berdehem mengiyakan.

“Ya sudah, aku tutup, ne?”

[Ne~]

“Kau dengar sendiri, kan? Eomma-ku sudah mengizinkan?” Suzy mendengus kesal, lalu melangkahkan kakinya lagi.
.
.
Myungsoo mengernyitkan keningnya saat menemukan foto Woohyun di samping TV yang ada di ruang tengah Apartemen Suzy.

“Suzy, kenapa foto Woohyun ada di sini? Sejak kapan?” Myungsoo menatap sinis foto itu.

“Oh, itu seminggu yang lalu aku memasangnya. Wae? Sekarang aku adalah fangirl-nya.” Suzy ikut memandang foto Woohyun.

“Huh? Seperti artis saja. Apa hebatnya dia? Hebatan juga aku.”

Ne, ne, terserah kau saja lah. Cepat mandi sana!” Suzy kembali melanjutkan ayunan langkahnya menuju kamarnya, setelah menaruh kembali foto Woohyun yang tengah dipegang Myungsoo.

“Kau sungguh merusak pemandangan, tahu!” gurutunya sembari melirik sinis benda mati itu.
.
.
Myungsoo mendudukkan bokongnya di samping Suzy yang duduk bersila dengan tangan memeluk bantal. Myungsoo ikut mengarahkan pandangannya pada layar LCD di depannya yang tengah menampilkan drama membosankan-baginya.

Myungsoo lebih suka film action, horror, adventure, daripada yang tengah ditayangkan di depan sana.
Myungsoo kini sudah mandi tentunya dan memakai pakaian santai milikya yang ia tinggal di kamar tamu Suzy. Ia senderkan punggungnya ke ‘pembatas’ sofa belakangnya. Pandangannya masih ke depan, meski sekali-kali menoleh pada Suzy yang tampak menikmati tayangan yang disuguhkan.

 

“Suzy~” Tak ada respon dari gadis itu. Lantas Myungsoo menggeser duduknya, tepat di sisi Suzy.

“Apa, Myungsoo?” ujarnya, tanpa menoleh pada Myungsoo.

“Tidak. Aku kira kau tak menyadari kehadiranku.”

“Ck, memangnya kau pikir aku tidak peka, begitu?”

“He’um-” Myungsoo menganggukkan kepalanya, “-heiii … Suzy~”

Kali ini Suzy menoleh pada Myungsoo, karena ia pikir, jika ia tak menengok, Myungsoo akan terus mengganggu kesenanganya. Namun ia segera menjauhkan kepalanya saat jarak Myungsoo dengannya cukup dekat.

“Apa, Myungsoo? Geser, sana!”

Bukannya menuruti, Myungsoo malah menatapnya penuh arti, cukup membuat Suzy sedikit gugup.
Tiba-tiba, Myungsoo menarik tangan Suzy dan….

 

Menaruh tangan Suzy di pundaknya. “Tolong pijiti, pundakku pegel,” pintanya memelas. Sementara Suzy tanpa sadar memasang ekspresi cengo. Ia kira Myungsoo akan melakukan sesuatu yang mendebarkan.

“O-oh, baiklah.” Yeah, sebenarnya Suzy merasa iba juga pada Myungsoo. Seharian ini Myungsoo terus menemaninya, lantas ia bangkit dari duduknya, kemudian berjalan menuju kamarnya untuk mengambil balsem (?)
.
.
Ya! Ya! Kenapa kau membuka bajumu, eoh?” teriak Suzy yang tengah berjalan mendekati Myungsoo yang sudah tanpa atasan.

Wae? Ini juga akan memudahkanmu memijitku. Ah … jangan-jangan kau terpesona-” Myungsoo tidak mengatakan malu, karena itu bersifat umum, “-ya~ pada tubuh sexy-ku? Haha …,” narsisnya.

“Cih, simpan kenarsisanmu! Bergeserlah padaku. Aku akan memijitmu dengan tenaga superku.” Suzy segera mengoleskan balsem (?) pada pundak Myungsoo, kemudian memijatnya keras.

“Mana? Katanya tenaga super? Hoammm … pijitanmu membuatku ngantuk.” Myungsoo mulai memejamkan matanya.

Well, sebenarnya pijitan Suzy memang menyakitkan. Tapi biarlah. Toh, nanti dia juga capek sendiri jika memijitnya seperti itu kkkkk~

“Aishh!” Suzy memukul pelan pundak Myungsoo, saat pemuda-ekhem-rupawan itu mengakui pijitan supernya malah membuat Myungsoo mengantuk.
.
.
.
.
TBC

Okeh, makasih deh buat yang udah baca

aku pergi dulu yaaa byeee

Advertisements

8 thoughts on “Suzy The Vice President [Chapter 1]

  1. Ternyata myung suka sama suzy..
    suka deh moment myungzy yg kadang2 akur,kadang2 beratem..keren ffnya,ditunggu kelanjutannya~~!!!

    Like

  2. Suzy galak bner dah ntar myungsoo nya kabur lohh

    Like

  3. Bags thor ceritanya 😉

    Like

  4. Kkk myungzy bner2 dtakuti klau introgasi. Myuing benci bnget ma wooyun hehehe. Waduh myungzy kok satu rmah

    Like

  5. Ahahaha jgn2 terjebak dalam friendzone..
    Cuteee 😀

    Like

  6. Hai , ak readers baru .
    Hahahah tingkah myung konyol yahh .. ffnya lumayan mnghibur kok. Tpi mnrt ak ada bbrapa kata yg ngbosann .
    Crtanya msh random , sbnarnya mreka bsahabat akrab ato orgtua mreka yg jga akrab smpai kduanya sling knal. Ah ia, apa myungsoo udh suka suzy jga ,, next dlu dh

    Like

  7. Annyeong, saya reader baru..
    Authornim, ini FF nya lucu, kocak dan keren banget..
    bacanya bikin ketawa+senyum-senyum sendiri..
    joah..
    next chapter..

    Like

tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s