Namitsutiti

Dangerous Fantasy [Part 3]

30 Comments


cover-ff-79

Credit poster by popowiii artwork | SHINING VIRUS

Tittle » Dangerous Fantasy

Author » Namitsu Titi

Rate » T

Genre » Friendship, School-life, Romance.

Cast » Park Jiyeon [T-ARA], Xi Luhan [EXO].

Disclaimer » Semua cast milik orang tuanya masing-masing dan Tuhan YME. Popularitas Cast milik agency dan diri nya masing-masing. Tapi, alur cerita milik saya.
.
© 2014 Namitsu Titi
.

~Happy Reading~

Luhan kini sudah segar kembali, dan pastinya tidak bau keringat karena ia mengganti bajunya. Luhan terseyum saat matanya menangkap sosok Jiyeon yang tengah berdiri di dekat tembok pembatas, dengan pandangan terarah ke halaman sekolah. Luhan segera mendekati Jiyeon.

Senyuman Luhan langsung berubah dingin, saat Luhan melihat Sehun di halaman, tengah melempar senyum tidak jelasnya pada Jiyeon. Apa-apaan itu?! Sehun melambai-lambaikan tangannya pada Jiyeon! Ah~ kenapa kau membalas lambaiannya, Jiyeon? Keluh Luhan tak rela. Ugh, rasanya Luhan ingin sekali menendang Sehun ke planet pluto!

Haishh … kenapa ia tak suka jika Sehun dekat-dekat dengan Jiyeon? Apa ia … cemburu?


“Exhemmm …,” Luhan berdehem, membuat Jiyeon yang sedang memandang kepergian Sehun, menoleh padanya.

“Oh, Luhan! Kau sudah selesai?” Luhan mengangguk, kemudian menjauhi tembok pembatas di depan kelasnya.

“Ayo, pulang sekarang.” Luhan melangkahkan kakinya lebih dulu.

Ne!” Jiyeon menyusul Luhan, dan menyamakan jalannya di samping pemuda bertubuh tinggi dan ramping itu.

 

Luhan dan Jiyeon berjalan melewati koridor-koridor kelas dengan ditemani ocehan Jiyeon atau kadang-kadang gadis yang hobby memakai eye liner-seperti Byun Baekhyun, teman sekelasnya-menyapa orang-orang yang dikenalnya saat melihat mereka sedang nongkrong di depan kelas.

Keduanya menuruni anak tangga yang terhubung ke halaman dengan begitu santai, seolah-olah tidak ingin melewati kebersamaan mereka begitu cepat.

Luhan dan Jiyeon menyukai ini, pertama kalinya berjalan pulang bersama.
Sadar, bahwa ada penambahan kadar rasa akan Luhan di diri Jiyeon, tapi ia belum bisa mengidentifikasikan, termasuk permulaan rasa cinta atau obsesi semata.

 

“Luhan Hyung! Mau pulang bersamaku, tidak?” teriak Jongin yang sudah duduk nyaman di jok motornya.

“Tidak Jongin, hari ini aku naik bus saja!” Luhan menyahuti Jongin dengan nada sedikit keras, lantaran Luhan masih dua meter lagi untuk sampai di pintu gerbang sekolah, sementara Jongin sudah berada di tepi jalan.

“Oke. Aku duluan, ya!” Jongin melihat Luhan mengangguk, dan ia pun langsung meninggalkan area sekolahnya.

Luhan kembali melanjutkan perbincangan mereka yang tertunda. “Hm, aku baru mendapatkan lagu No More-Beast kemarin sore. Tapi setidaknya tidak terlalu terlambat, karena perilisannya seminggu yang lalu.”

“Ah, benarkah? Berarti aku yang menang, weeq!-” Jiyeon memeletkan lidahnya, “-aku mendapatkannya tiga hari kemudian, setelah perilisan!” ujarnya bangga.

 

Nunna~”

 

Sial!!’ Luhan menggeram dalam hati ketika melihat bocah pengganggu yang tengah menyengir ria di dekat gerbang sekolah-di bagian luar.

“Aaa … Sehun~ kenapa belum pulang? Kemana motormu?” tanya Jiyeon dengan dahi mengernyit heran, pasalnya Sehun sudah keluar dari sekolah lebih dulu, tapi kenapa temannya masih berdiri di sana?

“Eum … aku ingin pulang bersamamu, Nunna-” Jiyeon mendesah malas dengan tangan terlipat di depan dadanya, sementara Luhan memutar bola matanya jengah, “-dipinjam hyung-ku hehe …,” ralat Sehun ketika melihat ekspresi yang ditunjukan Jiyeon, khususnya Luhan.

 

Mereka berjalan bersama menuju halte dekat sekolah, diramaikan celotehan riang yang saling bersahutan di antara mereka, kecuali Luhan.

Yeah, Luhan lebih memilih berjalan di belakang mereka-berasa menjadi obat nyamuk, entah mengapa. Hatinya terus menyumpah serapahi Sehun yang sudah mengganggu kebersamaannya bersama Jiyeon.
.
.
Sehun yang pertama kali menaiki bus tujuan mereka, melemparkan pandangannya ke kiri dan kanan, pada jok-jok di bagian depan.

Sehun menghela napas. Tidak ada satu pun yang kosong. Mungkin kalau jok paling belakang yang diisi tiga kursi, memang tidak ada yang menempatinya.

Nunna, kita duduk di sini saja, ya?” Sehun menunjuk jok kosong di sisi tubuhnya. Jiyeon mengangguk semangat.

Jiyeon menggerakkan kakinya menuju jok yang dipilih Sehun, dan ia mengambil tempat di dekat jendela. Luhan yang berada di belakang Jiyeon, ikut melangkah dan mengambil tempat di jok tengah, tapi tidak jadi karena Sehun yang berdiri di samping jok paling sisi, mencegat lengan Luhan.

Luhan mendelik tak suka pada Sehun, kerutan heran terukir di dahinya, sorot matanya mengatakan ‘ada apa?’ pada pemuda yang tengah nyengir di hadapannya.

Hyung, kau duduknya di sisi saja, ya?”

“Tidak mau. Kau saja yang di sisi.”

“Yah, Hyung … aku mohon~” Sehun memasang ekspresi se-memelas mungkin. Tangannya terkatup memohon.

“Tidak,” tolak Luhan ketus. Luhan memajukan langkahnya kembali, namun Sehun menghentikannya lagi.

Hyung~” rengek Sehun lagi, namun yang didapatnya hanya  tatapan tajam bercampur kesal Luhan. “Ah, Nunna … aku mau duduknya di tengah~”

“Luhan, biarkan saja Sehun duduk di sebelahku, ne?” Jiyeon menatap lembut mata Sehun.

 

Hahhh … kalau sudah begini, apa boleh buat?

Luhan melepas sedikit kasar tangan Sehun yang masih mencengkram lengannya. Luhan mempersilakan Sehun untuk mengambil tempat yang diincarnya. Ugh, tak rela sekali rasanya.

 

Sehun memancarkan aura penuh cinta pada Jiyeon karena gadis itu membelanya. Lantas, Sehun mendekati joknya dengan penuh semangat, setelah melempar tatapan penuh kemenangan sekaligus mengandung unsur mengejek pada Luhan. Itulah yang ditangkap mata Luhan. Padahal di kenyataannya, Sehun hanya memperlihatkan senyum biasa.

 

Luhan jadi merasa yang tidak-tidak mengenai kedekatan Sehun dan Jiyeon.

Sehun menyukai Jiyeon, kah?
Atau sebaliknya?
Ah, apa keduanya saling-aishh!

 

Luhan duduk di jok bus, dan perasaan dongkol mulai mengerumuni hatinya.
Kenapa sih, Jiyeon membela Sehun? Terlalu menyayanginya, apa?
.
.
“Luhan, aku duluan, ya?” pamit Jiyeon. Kini bus yang mereka tumpangi tengah berhenti di area perumahan Sehun dan Jiyeon.

“Aku juga, Hyung!” Luhan menatap malas pada Sehun, kemudian bergumam ‘iya’.

 

Luhan menatap Jiyeon dari kaca. Ia sudah berpindah tempat, mengambil alih jok yang diduduki Jiyeon. Sepertinya, kedua orang itu-Jiyeon dan Sehun-antusias sekali jika sedang bersama. Tak pernah capek untuk terus berceloteh ria. Apalagi Sehun, berisik sekali.

Tak lama, bus yang digunakan Luhan melaju lagi, mengantarkannya menuju area perumahan pemuda itu.
.
.
“Hoamm …,” Sehun menguap kecil, tanpa menutupi mulutnya. Sepertinya perjalanan singkat tadi, cukup membuatnya mengantuk. Yah, Sehun jarang naik bus. Biasanya ia naik motor. “Emm … Nunna?” Jiyeon bergumam acuh, membalas panggilan Sehun. “Nunna, sepertinya Luhan Hyung … menyukaimu.” Jiyeon terkikik geli mendengar perkataan Luhan.

“Hm, itu hanya perasaanmu saja, Sehun. Mana mungkin dia menyukaiku. Bahkan … dia masih mamakai cincin itu. Artinya, Luhan masih mencintai mantan kekasihnya, bukan?” Jiyeon menyunggingkan senyum tipis-bukan dari hati, sementara Sehun manggut-manggut tak peduli.

“Mm … Nunna, kau tidak seperti biasanya.” Jiyeon menolehkan kepalanya menghadap Sehun. Kerutan heran melekat di keningnya. Sehun berdehem kecil sebelum melanjutkan ucapannya, “Dia … apa kabar? Biasanya saat kita bertemu, Nunna pasti menyelingi obrolan tentangnya.” Jiyeon sedikit memperlambat langkahnya. Mendengar kata ‘dia’, kerja otaknya langsung tertuju pada orang yang dimaksud Sehun, meninggalkan rasa … aneh di dadanya. Hatinya … terasa meringis. “A-aa … dia siapa?”

“Ck, jangan pura-pura tidak tahu, Nunna.”

“Ah, e-entahlah. Aku tidak tahu di mana keberadaannya. Mungkin hilang ditelan bumi, ya? Hahhh … aku sudah mencarinya, tapi belum aku temukan,” ujarnya, setelah terdiam sejenak. Ia tersenyum … hambar, kemudian.

‘Ck, Nunna, kau ini bodoh atau apa? Iya, bagimu dia menghilang entah kemana karena kau mencarinya melalui hati, bukan secara ‘kenyataan’. Seseorang yang sering berada di sekitarmu, kau bilang hilang? Apa begitu menyakitkan ‘kah, Nunna?’

“Hei, Sehun. Jangan memandangku dengan tatapan kasihan, begitu!”
.
.
.
.
‘Clekk …’

 

Pintu kayu di hadapan Luhan terbuka kala ia mendorong gagang pintunya pelan. Luhan menyampirkan tasnya. Lekas itu, ia berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum.

Luhan menaruh pelan gelas yang telah kosong di bak pencucian, kemudian menyeret kakinya meninggalkan dapur. Sepanjang langkahnya, pikirannya sedikit berkeliaran mengenai pertemuannya dengan Shinmi di Basket Indoor. Shinmi mengatakan bahwa dirinya telah memiliki kekasih lagi. Dan Luhan memikirkannya bukan karena ia cemburu atau masih mencintai Shinmi, tapi orang yang pernah disukainya benar-benar membuatnya heran dan terkagum. Dirinya dan Shinmi baru mengakhiri hubungan dua minggu yang lalu, dan sekarang?

 

Hebat!

 

Mudah sekali untuk berpaling. Luhan memandang kembali cincin yang terpasang di jarinya.

Haruskah ia melepaskannya?

Luhan menghela napas. Ia menyukai cincin itu, apalagi harganya cukup mahal.
Ah, sudahlah. Terlalu sayang jika tak dipakai. Toh, Luhan sudah tidak mencintai Shinmi lagi. Yah, mungkin hanya sekedar peduli.
.
.
.
.
Jiyeon mengacak rambutnya, kemudian membuka pintu rumahnya dengan malas. Mengganggu saja! Gerutunya. Jiyeon semakin mendengus malas tatkala mengetahui siapa yang bertamu ke rumahnya.

“Ada apa, Sehun?” Jiyeon menyenderkan punggungnya di tiang pintu. Sehun menyelonong masuk ke dalam rumah Jiyeon dengan santainya. Jiyeon mendengus akan sikap tak sopan Sehun.

“Ayo Nunna, kita nonton. Aku punya film bagus! Genre favorite-mu. Romance-Adventure.” Sehun melambai-lambaikan keping DVD film-nya. Jiyeon hanya berdehem kecil, sebagai responsnya.

“Ayolah Nunna … kenapa kau terlihat tidak semangat? Aishh …” Jiyeon langsung bertampang semangat-meski tak sepenuhnya-saat mendengar Sehun mengeluhkannya.

 

Jiyeon juga tak mengerti mengapa ia bisa kekurangan tenaga dengan akhiran lesu begini.

 

Sehun tersenyum kecil, “Ngomong-ngomong, Ahjuma dan Ahjussi, ke mana? Aku merasakan aura kesepian di rumah ini.” Sehun mengendus-ngendus sekitarnya, seolah-olah sedang membaca situasi di sekelilingnya. Namun tak lama, Sehun mengusap-usap kepala bagian kirinya karena Jiyeon menimpuknya dengan bantal sofa.

“Tidak usah berlebihan, Sehun. kau seperti binatang! Eomma dan Appa sedang keluar, huffthh …,” Jiyeon mendesah sebal.

“Wew … orang tuamu romantis juga kkakkakka …” Jiyeon berdecak mendengarnya.

“Kapan film-nya diputar?”

“Ah, ya, ya. Aku putar sekarang.”

Selagi menunggu Sehun memutarkan film, Jiyeon meraih ponselnya yang diletakkan di atas meja. Ia mempermainkan ponselnya sebentar, kemudian memutuskan untuk mengirimi Luhan pesan.

 

To : Luhan
Luhan~ kau sedang apa?

 

Send….
.
.
Bolak-balik, Jiyeon menatap ponsel dan layar LCD TV-nya selama satu jam ini. Greget sekali rasanya menunggu balasan dari Luhan yang tak kunjung muncul di layar ponsel miliknya. Waktu baru menunjukkan pukul 20:25, mana mungkin Luhan sudah tidur.

 

‘Luhan~’ gumam Jiyeon.

 

Sehun mengalihkan pandangannya dari layar LCD sejenak, lalu menoleh pada Jiyeon yang terlihat gelisah dalam duduknya. Keningnya mengernyit heran, “Kau kenapa, Nunna?”

“A-ah … tidak, Sehun.” Jiyeon tersenyum tanpa arti.
Jiyeon melirik layar ponselnya lagi. Biasanya jika ia mengirimi Luhan pesan, pemuda itu selalu membalas pesannya cepat.
.
.

‘Drrrttt … drrrttt …’

Ponsel Touch Screen bergetar digenggaman Jiyeon. Sontak saja, Jiyeon langsung menoleh pada tangannya yang sedang menggenggam ponselnya. Dengan buru-buru, Jiyeon segera membuka kunci layarnya. Sebuah pesan masuk yang ditampilkan layar ponselnya.
Jiyeon mendesah lega. Akhirnya, Luhan membalas pesannya juga setelah menunggu hampir dua jam lamanya.

 

From : Luhan
Maaf, baru balas. Aku baru bangun tidur hehe.

 

‘Tumben sekali,’ pikirnya. Beberapa detik kemudian, ada pesan masuk lagi dari Luhan.

 

From : Luhan
Hoamm … aku masih ngantuk. Bolehkan kalau aku tidur lagi?

 

Jiyeon terkekeh kecil membaca pesan kedua Luhan. “Pabbo,” gumamnya.

Yak!!” Jiyeon menepis tangan Sehun yang menyentuh keningnya. “Aku masih waras, Sehunnn!”

“Haha … maaf, Nunna. Habis kau berbicara sendiri hehe.” Sehun menonton film kembali setelah mengganggu keasyikan Jiyeon.

 

To : Luhan
Iya, tidak apa Luhan. Hei, kenapa harus bilang padaku? Dasar tentu saja, kau boleh tidur lagi. Have a nice dream ^^

 

Send….

 

Jiyeon kembali tersenyum sesaat setelah pesannya terkirim. Namun, senyumannya agak mengendur saat melihat Sehun yang duduk di sampingnya.

“Sehun!! Kalau sudah ngantuk, pulang sana!” teriak Jiyeon, membuat Sehun terbangun dari matanya yang sudah merem-melek. Ck, padahal Sehun sendiri yang bertenaga sekali mengajak Jiyeon menonton, tapi sekarang malah Sehun sendiri yang sudah K.O duluan, dasar! Untung rumah Sehun hanya bersebelahan dengan rumah Jiyeon, memudahkannya untuk pulang jika saja Jiyeon mengusirnya malam-malam. Sehun, ia sering menginap di rumah Jiyeon dan dirinya menumpang tidur di kamar adik laki-lakinya Jiyeon.
.
.
.
.
~Morning, Inha High School~

 

Sekali lagi, Jiyeon melirik ke arah pintu dan arloji-nya.
Ke mana Luhan? Tanyanya. Luhan belum tiba di sekolah. Biasanya Luhan selalu datang lebih awal dari Jiyeon, tapi kini sudah pukul 07:05 dan tidak ada tanda-tanda keberadaan Luhan.

 

Tidak berangkat, kah? Ya Tuhan, Luhan membuatnya khawatir.

 

Karena sudah tak tahan, akhirnya Jiyeon bertanya pada teman sebangkunya. “Eunjung, apa kau melihat Luhan? Aku tidak melihat Luhan sedari tadi,” tanya Jiyeon gusar.

Tanpa memberikan jawaban, Eunjung  langsung melemparkan pandangannya menelisik ke segara arah, mencari keberadaan Luhan. Ternyata tidak ada. “Apa mungkin hari ini Luhan tidak berangkat, ya?” gumam Eunjung.

“Entahlah, Eunjung. Aku jadi … khawatir padanya” lirih Jiyeon.

Tak lama, pandangan Eunjung menangkap sosok Chanyeol yang akan melewati mejanya. “Chanyeol!” seru Eunjung kemudian. Merasa dipanggil, Chanyeol menengok ke arah teman sebangkunya Jiyeon.

“Chanyeol, apakah hari ini Luhan tidak berangkat?” lanjutnya.

Chanyeol sempat berpikir sejenak, “Eumm … iya sepertinya. Kemarin dia bilang-” Jiyeon langsung menghadapkan pandangan menuju Chanyeol saat pemuda itu sedang memberikan informasi tentang Luhan. Kemudian, menatap Chanyeol penuh perhatian-tidak ingin melewatkan berita tentang Luhan secuil pun. “-akan disuntik. Dia juga bilang kalau hari ini tidak akan berangkat,” jelas Chanyeol.

 

Jiyeon berhenti memandang Chanyeol lagi. ‘Kenapa kau tidak bilang jika hari ini tidak akan berangkat, Luhan? Kau sakit apa?’

 

“Ah, Jongin!” Jongin menghentikan langkanya saat ia akan melewati meja Jiyeon. “Jongin, sebenarnya Luhan memiliki penyakit apa?”

“Hah? Memangnya hari ini Luhan Hyung tidak berangkat?” Jiyeon mengangguk lesu, “Apa Tifus-nya kambuh, ya?” terkanya.

 

‘Tifus? Mengapa kau memiliki penyakit seperti itu? Apa kau jarang makan, Luhan?’ tanyanya pada diri sendiri.

 

Ya, setahu Jiyeon, salah satu penyebab penyakit Tifus adalah jarang sarapan. Tapi jika dilihat memang tak aneh juga. Luhan memiliki tubuh yang ramping. Apa Luhan jarang makan?

Jiyeon menghela napas. Ia sangat berharap semoga tidak terlalu parah. Ya Tuhan, hari ini benar-benar hari membosankan untuk Jiyeon sekaligus berdebar, cemas, dan perasaan buruk lainnya. Jiyeon sudah tak sabar menunggu jam pulang sekolah.

 

‘Semoga cepat sembuh, Luhan.’

.
.
.
.
“Jiyeon,” panggil Chanyeol dari arah belakang Jiyeon.

Mendengar suaranya, Jiyeon menghentikan langkahnya. Tidak langsung menoleh, melainkan berdiri diam. “Apa?” sahutnya dengan nada … ah, entahlah.

“Kau ingin ke Rumah Luhan?” tanya Chanyeol lagi.

“Hm,” gumam Jiyeon. Kemudian melangkahkan kakinya lagi untuk mengambil motornya.
Chanyeol mengacak rambutnya tak mengerti.

Jiyeon, gadis itu pernah menyatakan cinta padanya. Dan ia menolaknya halus, karena ia sudah memiliki kekasih.
.

.
.
.
Jiyeon gelisah sekarang. Pintu yang diketuknya belum dibukakan oleh pemiliknya. Apa tidak ada orang di dalam? Pikirnya. Sekali lagi, Jiyeon mengetuk pintu di hadapannya.

 

‘Clekk …’

Akhirnya~

 

“Luhan?” Luhan tersenyum dan mempersilakan Jiyeon masuk.

Sepi sekali. Pikir Jiyeon. Ia mendudukkan tubuhnya di sofa ruang keluarga, sementara Luhan duduk di seberangnya. Jiyeon menatap intens sosok Luhan. Wajahnya pucat. Jiyeon agak meringis melihat keadaan Luhan.

“Jangan menatapku seperti itu. Aku tak apa.”

“Bagaimana kabarmu?” entah mengapa suasana canggung melingkupi ruangan ini.

“Aku baik. Besok juga berangkat.” Luhan tersenyum lembut.

“Ke mana Song Ahjuma?” tanya Jiyeon, menatap lurus mata Luhan. Ia sengaja tak menanyakan orang tuanya. Jiyeon mendapat informasi dari Jongin ketika masih awal-awal dekat dengan Luhan.

Ayah Luhan sudah kembali ke sisi Tuhan semenjak ia kelas satu SMA, sementara ibunya bekerja di luar negeri dan tak pernah mengunjungi Luhan semenjak pemuda itu kelas tiga SMP. Kini Luhan tinggal bersama adik perempuan ibunya-Song Ahjuma. Sedangkan suami Song Ahjuma bekerja diluar kota.

“Bekerja.” Dilihatnya Jiyeon menghela napas. Luhan berdiri dari duduknya dan pindah ke samping Jiyeon. Luhan menyentuh bahu Jiyeon. “Aku tak apa, sungguh. Jangan beranggapan buruk tentang Song Ahjuma. Ahjuma sudah menemaniku ke dokter, kok. Lagipula hari ini Ahjuma tidak diberi izin untuk tidak bekerja.”

“…”

“Heiii … kenapa rautmu seperti itu, hem? Mana keceriaanmuuu …?” Luhan mencubit gemas pipi Jiyeon. Jiyeon melepas paksa tangan Luhan, dan bibirnya mengerucut sebal.

“Jiyeon~” Gadis itu memalingkan wajahnya.

“Hei~ Jiyi~~” Luhan meraih kedua bahu Jiyeon dan menghadapkan padanya.

Wae? Kau kenapa, eum?” tanya Luhan lembut. Luhan menatap dalam mata Jiyeon, menunggu dengan cemas. Luhan sungguh khawatir dengan sikap Jiyeon yang terlihat diam, tidak seperti biasanya.

“Jiyi~ please … jangan membuatku khawatir. Apa ada yang terjadi di sekolah? Atau … atau aku berbuat salah padamu?”

Ne! Kau punya salah padaku!” sahut Jiyeon cepat. Jiyeon menatap Luhan dengan pandangan seolah sedang menantang pemuda manis itu.

Sontak saja, Luhan tersentak kaget mendengar ucapan Jiyeon. Bukan dikarenakan nada bicara Jiyeon yang cukup tinggi, tetapi yang menjadi inti ucapan Jiyeon.

Luhan memiliki salah pada Jiyeon? Tapi masalah apa?

“Berpikirmu lama!” sungut Jiyeon.

Luhan tersentak kembali, ia memandang Jiyeon dengan alis bertaut, sedikit kesal juga mendengar perkataan Jiyeon. Dan Luhan memilih diam, menyadari gestur Jiyeon akan berbicara lagi.

“Tuan Xi, kesalahanmu itu terlihat sekali, tapi kau lama menebaknya. Kau ingin tahu apa kesalahanmu?”

Belum sempat Luhan menjawab, Jiyeon menyela lagi.

“Pertama! Kenapa kau tak memberitahuku kalau kau sedang sakit. Pantas saja tadi malam kau lama membalas pesanku. Lagipula kenapa kau tidak bilang saja lewat pesan tadi malam, karena aku yakin kau sudah tak enak badan sejak saat itu. Kedua! Sebenarnya kau makan secara teratur tidak ‘sih, hingga kau terkena tifus begitu. Ketiga! Karena tadi kau tidak berangkat sekolah, kau sukses membuatku gelisah, uring-uringan, dan aku sangat mengkhawatirkanmu, pabbo Xi Luhan!”

Jiyeon menghirup dan menghembuskan napasnya setelah mengungapkan unek-uneknya. Napasnya sedikit terengah, efek dari sederet ucapannya yang begitu panjang. Jiyeon merasa kesal tapi juga lega, melihat keadaan Luhan yang nampak sudah baikan.

Bibir merah alaminya membentuk ukiran senyum lucu, melihat reaksi Luhan yang hanya berkedip-kedip. Mungkin Luhan bingung karena tidak sepenuhnya mencerna penuturan Jiyeon yang panjang.

Dan kini Jiyeon jadi bingung sendiri pada Luhan. Luhan belum mengeluarkan suaranya setelah Jiyeon menunggunya beberapa detik. Terlebih lagi, Luhan malah menunduk dan meremas pundaknya-Luhan sedari tadi belum menurunkan tangannya dari pundak Jiyeon, membuat Jiyeon khawatir.

Jiyeon berpikir, apakah penyakitnya terasa lagi? Kini Jiyeon mulai menyesali ucapannya yang terkesan marah-marah. Barangkali, Luhan telihat aneh dikarenakan nada ucapan Jiyeon sendiri.

“Luhan, mianhae kalau ucapanku menyinggungmu.”

“….”

“Luhan, kau kenapa?” Apa terasa lagi?”

“….”

“Tolong jawab aku. Jangan membuatku khawatir-”

Anniya.” Luhan menggelengkan kepalanya kuat, masih menunduk.

“Lalu?” desak Jiyeon tak sabaran.

‘Greppp …’

Luhan menurunkan tangannya dari pundak Jiyeon, kemudian beralih ke belakang tubuh Jiyeon dan mendorong punggung Jiyeon ke arahnya, memeluknya.

Jiyeon melebarkan bola matanya, mendapat perlakuan tiba-tiba Luhan, bahkan ia hampir menahan napasnya.

Anniya, kau terlalu banyak bicara setelah aku menegurmu. Tapi aku senang kau sudah kembali dan terima kasih untuk kekhawatiranmu padaku. Terima kasih sudah mengkhawatirkan keadaanku. Jeongmal gomawo,” gumam Luhan pelan, di atas bahu Jiyeon, menimbulkan sensasi geli untuk Jiyeon

“N-ne, Luhan.”

Ruangan ini kembali hening. Luhan dan Jiyeon juga tak berniat menjauhkan tubuhnya satu sama lain. Pelukan Luhan yang nyaman dan hangat, begitu juga sebaliknya.

“Luhan?”

“….”

“Luhan? Apa kau tidur?” Jiyeon sedikit menggoyangkan bahunya.

“Tidak, Jiyi. Aku hanya sedang … memikirkan sesuatu.”

“Mengenai?” tanya Jiyeon setelah terdiam sejenak. Jiyeon baru menyadari kalau Luhan memanggilnya Jiyi sedari tadi, membuatnya tersenyum tipis.

“Hmmm … perasaanku.”

.

.

.

.
TBC

Advertisements

30 thoughts on “Dangerous Fantasy [Part 3]

  1. next thor
    ceritanya makin seru

    Like

  2. author kapan ff ini dilanjut?? udah gasabar bacanyaaa

    Like

  3. kemaren udh baca,tapi krna lupa sma ceritanya dibaca lagi,tapi tetap keren

    Like

  4. kemaren udh baca,tapi krna lupa sma ceritanya dibaca lagi,tapi tetap keren.suka

    Like

  5. Sehun sbnernya suka nggk sama jiyeon kayaknya lengket bgt
    luhan kpn mw nyatain perasaan nya

    Like

  6. Seru dan keep keren*-*

    Like

  7. luhan palli ! Katakan kau mencintainyaa! Jgn sampe kduluan sehun 😀

    Like

tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s