Namitsutiti

The First Time Say Love [Chapter 3]

11 Comments


High School Love On-horz

Tittle » The First Time Say Love

Author » Namitsu Titi

Rate » PG-13

Genre » Friendship, School-life, Slice Of Life.

Cast » Park Jiyeon [T-ARA], Nam Woohyun [INFINITE], Im Yoona [SNSD], Choi Siwon [Super Junior]

Others Cast » Lay, Bae Suzy, Kris.

Summary » Bukan Kris ataupun Woohyun, melainkan seorang pemuda usil yang bernama Lay.

Disclaimer » Semua cast milik orang tuanya masing-masing dan Tuhan YME. Popularitas Cast milik agency dan diri nya masing-masing. Tapi, alur cerita milik saya.

A/n : FF ini adalah FF remake chapter 1-3 di FF milik saya sendiri, dengan judul The First [Park Chanyeol-Yoo Ara Fanfiction].

.

© 2014 Namitsu Titi

.

.

.

~Happy Reading~

.

.

.

.

Jiyeon terlihat sedang menerawang tentang masa-masanya saat masih SMP, di depan kelasnya, seperti biasa. Ia merindukan teman-temannya, dan juga ia sedikit penasaran dengan kabar beberapa pemuda yang pernah dikaguminya dulu. Jiyeon adalah tipe gadis yang mudah ‘tertarik’ pada lelaki, tapi mudah juga melupakannya. Yeah, tipe gadis labil semacam itu. Bahkan sekarang juga masih mengalaminya.

Coba tebak, siapa saja yang menjadi pusat perhatian Jiyeon saat ini? Marilah kita hitung satu-satu.

 

Pertama : Zhang Yixing, tapi sering dipanggil dengan nama Lay. Pemuda berkebangsaan China ini, pindah ke Korea saat ia akan memasuki tahun pertamanya di SMP. Lay hanya tinggal sendiri di Korea, sedangkan kedua orangtuanya berada di China. Untuk memenuhi kebutuhannya, ia hanya diberi kiriman uang yang bisa dibilang cukup, setiap bulannya.

Kedua : Wu Yi Fan atau yang sering kita dengar dengan sebutan Kris ini, pastinya kita sudah mengenal pemuda ini, bukan? Jadi, kita lewati saja.

Terakhir : Nam Woohyun. Ia adalah pemuda asli keturunan Korea. Pemuda Stylish ini, gemar sekali menebar senyumnya, entah itu pada sesama atau lawan jenisnya. Istilahnya, murah senyum lah.

 

Adakah yang ingin bertanya, disini? Ehm, maksudnya mengenai seseorang yang disebutkan tadi. Adakah yang bertanya, kenapa Lay muncul disini? Kenapa dia berada diurutan pertama? Sejak kapan, Lay menjadi bagian dari salah satu pemuda yang mengambil alih perhatian Jiyeon?

Jiyeon menoleh ke sampingnya, saat seorang gadis bernama Suzy itu menyentuh bahu kirinya.
Suzy tersenyum, kemudian menyapanya, “Kau melamun, eoh?”

Jiyeon tersenyum, “Hm… hanya teringat saat masa-masa SMP hehe…”

Suzy mengangguk mengerti. Selain teman sekelas Jiyeon saat ini, Jiyeon juga teman sekelasnya sewaktu SMP. Tapi saat itu, keduanya tidak terlalu akrab, hanya saling mengenal. Namun beda dengan sekarang, karena sepertinya mereka sudah kelihatan keakrabannya.

“Apa kau kenal dengan seorang pemuda bernama Woohyun dari kelas 1-B?” tanya Suzy, dengan matanya yang tertuju ke halaman sekolah, sama seperti dirinya.

Jiyeon berpikir sejenak. Woohyun dari kelas 1-B? Apakah Woohyun yang ‘itu’ ? Tapi yang diketahuinya, pemuda yang bernama Woohyun itu hanya dari kelas 1-B. Ah, mungkin Woohyun yang ‘itu.’ Pikirnya. Ia tidak ingin salah sangka lagi seperti waktu itu.

“I-iya, kenapa memangnya?”

“Emm… aku dengar dari orang lain, kalau senyumnya manis,” ujarnya, yang sepertinya sambil membayangkan pemuda itu tengah tersenyum.

Jiyeon yang mendengar ucapan tak terduga itu mengernyit heran. ‘Apa katanya tadi? Manis? Perasaan, senyuman Woohyun biasa saja. Tidak ada manisnya sama sekali. Oh, mungkin karena Woohyun merupakan pemuda yang murah senyum, jadi Suzy menyetujui bahwa itu manis.’ tebaknya, sembari mengingat-ingat orang yang dimaksud Suzy itu.

“Aku malah sekelompok dengannya di KIR,” ucapnya sembari tersenyum mesem-mesem, dan dari nada bicaranya, sepertinya ia bangga dengan pernyataannya.

“Eh, Jiyeon. Tuh, orangnya,” bisik Suzy pada Jiyeon, saat ia tak sengaja menoleh ke arah tangga dekat kelasnya.

Jiyeon langsung menoleh ke arah yang dituju Suzy, dan ia langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain, masih dengan senyum penuh kecurigaan itu.

Melihat gelagat Jiyeon yang seperti itu, Suzy menyadari satu hal, “Heh, Jiyeon. Kau menyukai Woohyun, ya?”

“Tidak~”

“Ah, bohong~”

“Beneran! Aku tidak menyukainya.” Jiyeon menatap ke halaman lagi.

‘Justru, aku yang curiga padamu, Suzy. Kau menyukainya, kan? Aku melihat itu, Suzy. Kau tampak sedikit kecewa, saat kau menyadari perubahan tingkahku. Meski kemungkinannya hanya sepuluh persen, tapi aku yakin itu. Gerakan matamu, membuktikannya. Seperti sedikit berair.’
.
.
.
.
Jiyeon tampak asyik dengan fokusnya, pada dua orang berbeda jenis yang tengah cekcok (?) sepertinya, di meja paling depan, dekat meja guru. Mempermasalahkan sebuah nama.
Seorang gadis yang menjabat sebagai bendahara kelas, terlihat kesal pada seorang pemuda di hadapannya, lantaran pemuda yang mengaku bernama Mr.X itu, tidak mau menyebutkan nama aslinya. Padahal, gadis itu harus menceklis nama pemuda itu, sebagai tanda bahwa pemuda yang bisa dikatakan tampan itu sudah membayar uang KAS.

“Cepat katakan, siapa nama aslimu?!” tanya gadis itu emosi, karena sedari tadi, orang itu tidak menjawabnya dengan benar.

“Mr.X,” keukeh pemuda itu. Sepertinya ia sangat suka melihat ekspresi kesal orang lain.

Yak! Aku juga harus menagih yang lain! Jawab yang benar!”

“Baiklah… baiklah…, namaku Lay.”

Gadis itu segera memeriksa nama-nama di buku pendataannya, kemudian mengernyit bingung. “Gessst… disini tidak ada yang bernama Lay! Berhentilah bertele-tele!”

“Haha… kau lucu sekali dengan ekspresimu yang seperti itu. Gadis cerewet, dengarkan baik-baik. Nama favorite-ku adalah Mr.X, nama panggilanku itu Lay, dan nama asliku adalah Zhang Yixing. Bagimana? Baguskan namaku? Haha…”

“Cih! Aku tak butuh nama-nama anehmu!”

 

Dilain sisi, Jiyeon tertawa tertahan di tempat duduknya, ketika melihat ‘keakraban’ kedua orang itu.
Si gadis yang emosian, dan si pria yang usil.

“Yah! Jiyeon, ada apa dengan mulutmu itu? Kau menertawaiku, eoh?” teriak gadis itu, saat ia menoleh ke arah Jiyeon sekaligus ingin menagih orang yang diteriakinya.

“Hmfff… tidak, Yoona. Haha…” Akhirnya, Jiyeon pun tak tahan untuk tidak tertawa, melihat ekspresi Yoona yang semakin lucu, saat kekesalan sahabatnya itu meningkat.

“Huh! Cepat bayar KAS mu!” teriak Yoona lagi.

Jiyeon menghentikan tertawanya, kemudian berjalan mendekati Yoona. Lay juga masih berdiri di sana, dan pemuda itu langsung memamerkan senyum usilnya, saat tatapan Lay dan Jiyeon bertemu pandang.
Jiyeon mencoba untuk menatap biasa saja, saat matanya menangkap tatapan dan senyuman Lay.
.
.
.
.
“Hei, kau melihat Yoona?” tanya Jiyeon pada salah seorang teman sekelasnya.

“Ehm… sepertinya dia ada di perpustakaan. Tadi aku melihatnya berjalan ke arah sana.”

Setelah mendengar jawaban gadis itu, Jiyeon langsung keluar dari kelasnya, menuju perpustakaan sembari menggerutu, “Dia itu suka sekali menghilang. Jangan-jangan dia menemui Siwon Sunbae lagi.”
.
.
.
.
“lalla…lalala…lalallala~ la… *bersenandung lagunya Doraemon.*” Yoona bersenandung pelan seraya memasuki ruang perpustakaan yang ada di hadapannya. Yoona akan meminjam buku Sastra Korea sebagai bahan referensinya. Ia sengaja ke perpustakaan sendirian, karena sepertinya tadi Jiyeon sedang sibuk mencari seseorang dari kelas sebelah -karena Jiyeon terus menatap ke arah sana- di depan kelasnya. Yoona juga tidak tahu siapa yang tengah dicari Jiyeon, dan ia tidak peduli itu. Lagian ia memiliki firasat baik di sini, di sebuah ruangan yang luas, dan terdapat begitu banyak buku dari jenis fiksi, non fiksi, maupun yang lainnya.

“Sastra… sastra… Korea. Mana, ya? Ehmmm… ah, ini dia,” gumamnya, saat menemukan buku yang dicarinya. Jari rampingnya segera mengambil buku itu.

Yoona berjalan menuju salah satu meja di sana, dengan mata yang sesekali mendongak ke depan, karena sedari tadi matanya tertuju pada buku yang dipegangnya.

Saat pandangannya ia dongakkan ke depan lagi, ia langsung berhenti melangkah.
Di sebuah meja yang hanya terhalang oleh beberapa meja lainnya itu, ada sesosok pemuda tampan di sana, yang terlihat begitu senang dengan candaan yang dilontarkan oleh seorang gadis di hadapan pemuda itu.

Perlahan Yoona menutup bukunya, dan bergumam lirih, “Siwon Sunbae, aku… aku tak suka dengan rasa yang seperti ini.” Meskipun begitu, sepertinya ia enggan untuk beranjak dari sana. Fokus matanya juga terasa sulit untuk berpaling, hingga akhirnya,

“Yoona, kenapa kau berdiri diam di situ?” tanya Jiyeon, yang sepertinya sudah menemukan sahabat cantiknya yang hilang itu.

“Hei…” Jiyeon sedikit mengguncang bahu Yoona.

“A-ah… eh, J-Jiyeon,” ucap Yoona gelagapan.

“Kau kenapa?” Jiyeon sedikit mengkhawatirkan Yoona, lantaran sorot mata sahabatnya itu sedikit murung.

“T-tidak. Ah, ayo kita ke kelas. Aku sudah mendapatkan bukunya,” ajaknya, seraya berjalan lebih dulu. Jiyeon langsung berjalan menyusul Yoona dengan raut yang keheranan.
.
.
.
.
Jiyeon sesekali memandang ke depan, tapi sesekali ke bawah juga. Ah, lagi-lagi ia harus merasakan situasi yang seperti ini. Tapi untuk yang satu ini, ia bersikap biasa, tidak segugup saat di dekat Woohyun.

“Lay, kau akan ikut KIR, tidak?” tanya Jiyeon pada akhirnya. Kini keduanya berada di dekat area kantor guru. Jiyeon tak sengaja berpapasan dengan Lay, saat ia akan menemui guru pembimbing di KIR.

“Em… aku izin, ya. Tolong sampaikan ke songsaenim,” ujarnya. Bibirnya menyunggingkan senyum ramah.

Lay ikut KIR? Yes. Lay juga ikut mendaftar sebagai member di club itu, tapi di hari pertama les itu dimulai, Lay tidak hadir, dan sekarang pun sama.

“Ehm, baiklah,” Jiyeon mengangguk sembari membalas senyuman itu.

“Ayo, Jonghan,” ujar Lay pada seorang pemuda di sampingnya.

Jiyeon menatap kepergian Lay dengan hati gembira. Maklum, ini pertama kalinya terjalin ‘sahutan’ seperti ini.

Lay… Lay… Lay, sebenarya ia adalah pemuda yang pertama kali disukai Jiyeon. Ini benar-benar yang pertama. Pemuda-pemuda yang pernah disukai ah lebih tepatnya ditertariki (?) Jiyeon, diantara mereka, tidak ada yang mampu membuat Jiyeon sampai menyukai. Bisa dikatakan hanya sebatas mengagumi. Tapi sekarang, saat Jiyeon bertatapan dengan Lay, di hari itu, ia langsung menyukai Lay. Ia merasa menginginkan pemuda itu. Meskipun Lay itu pemuda usil, tapi ia tetap menyukainya. Itu seperti hiburan tersendiri baginya, dan terlebih lagi, ia tidak mempermasalahkan kekurangan ataupun sifat buruknya. Love at the first sign? Entahlah. Karena yang diherankan olehnya, ia hanya merasa senang, belum pernah merasakan bagaimana jantungnya berdegup ketika di dekatnya, dan rasa gugup pun hanya kadang-kadang. Ah, sulit dijelaskan. Jika seperti itu, perasaan seperti apa yang tengah dirasakannya untuk pemuda bermarga Zhang itu? Kenapa saat berhadapan dengan Woohyun, ia bisa sangat gugup dan kadang berdebar, tapi dengan Lay tidak? Padahal, untuk saat ini, perasaan suka terdalamnya hanya pada orang itu. Bukan Kris, ataupun Woohyun, melainkan pemuda usil yang bernama Lay. Tapi, ah… adakah yang ingin menjawabnya, siapa yang sebenarnya disukai gadis itu?

Lay atau Woohyun?

Jangan tanya kenapa Kris tidak masuk didalamnya, karena Jiyeon murni mengagumi pemuda pirang itu, layaknya perasaan seorang fans terhadap idolanya.

Jiyeon mengambil sebuah ember kecil yang berisi beberapa bongkahan es batu, dari guru pembimbingnya, kemudian membawanya ke ruang les-nya.
.
.
“Yoona?”

“Hadir.”

“Kris?”

“Izin, mrs.”

“Woohyun?”

“Belum datang, mrs.”

“Bla…bla…” guru pembimbing KIR itu sibuk mengabsen members-nya, saat Jiyeon tengah memperhatikan sekeliling, mencari keberadaan Woohyun. Ia tidak mencari keberadaan Kris, karena ia sudah melihat Kris sebelum memasuki ruangan ini. Pemuda dengan sejuta pesona itu tengah latihan gerakan pramuka di halaman sekolah, itulah kenapa gadis bermarga Park itu, tidak mencari keberadaan seorang pemuda yang satu itu.
Beberapa menit kemudian, akhirnya Woohyun muncul bersama Suho, yang entah kemana saja tadi.

Peserta KIR segera mempersiapkan segala sesuatu untuk prakteknya kali ini. Membuat es lilin *anggap di Korea ada :v * tanpa harus dimasukkan ke dalam lemari es. Semua anggota kebagian tugasnya masing-masing. Ada yang membuat sirupnya, menyediakan kantung plastik hitam, garam kotak-kotak (?) yang dihaluskan, dan Jiyeon memilih untuk membantu menuangkan sirup ke dalam plastik kecil -untuk es lilinnya.

“Pelan-pelan,” ujar Jiyeon pada Eunjung. Ia tengah memegang plastiknya, sedangkan Eunjung yang menuangkan sirupnya. Dan sesekali matanya melirik ke arah Woohyun yang tengah bercandaan dengan seorang gadis, yang sepertinya teman sekelas pemuda itu. Dan ia memandang jengah pada dua orang itu. Terlebih lagi pada gadis itu, karena Jiyeon menerka-nerka kalau cara menatap gadis itu pada Woohyun terlihat berbeda. Mungkin hampir seperti dirinya. Yah, bisa dibilang seperti itu.

Setelah selesai, mereka kembali masuk ke ruangan itu, tinggal melakukan tahap selanjutnya.
Semua anggota disuruh berkumpul, untuk mendengarkan penjelasan lebih jelasnya, serta reaksi-reaksi apa saja yang terjadi. Saat sang guru sedang menjelaskan, Jiyeon sama sekali tidak fokus. Ia merasa diperhatikan oleh Woohyun yang berdiri di sebrangnya. Namun pada kenyataannya, hal tersebut tidak ada faktanya sama sekali. Yeah, mungkin jika orang yang sedang jatuh cinta itu, memang seperti itu, kah?

Akhirnya, Jiyeon sedikit lega, karena Woohyun tidak berdiri di sebrangnya lagi. Dan Jiyeon tidak ingin tahu kemana Woohyun ‘pindah’
sebab, jika ia tahu, maka matanya akan mencuri-curi pandang terus ke arah sana. Mungkin. Namun,

Jleb…!

Oh, ya Tuhan, kenapa sekarang malah makin parah?
Jiyeon segera menundukkan kepalanya, hanya menatap ke arah meja di depannya, dengan wajah yang memerah sepertinya. Ia berdiri kaku di sana, tak bergerak sedikit pun. Ia tak menyangka bahwa Woohyun akan… akan… aaaa… tidaaakk!! Please, lihat ke belakang tubuh Jiyeon.

Fiuhhh… dengarkan baik-baik. Nam Woohyun, berdiri di belakang tubuh Jiyeon, dengan kedua lengannya berada di masing-masing pinggang gadis itu, dan telapak tangannya di tumpukan di meja. mungkin lebih gampangnya, pose mengurung gadis itu, tapi dari belakang. Tapi ada sisi romantisnya, kan. Bukankah seperti pose memeluk? kkekeke… beruntung tubuh Woohyun tinggi. Coba kalo sejajar dengan Jiyeon, pasti… silakan pikirkan sendiri.
.
.

Satu jam pun berlalu, dan akhirnya Les KIR berakhir. Sebelum benar-benar Jiyeon melewati pintu gerbang sekolah, Jiyeon menengok ke belakang, menatap Woohyun sejenak, yang masih berada di halaman sekolah. Hahhh… sepertinya malam ini akan menjadi malam yang panjang untuknya. Ia takut tidak bisa tidur karena terbayang sweet moment-nya bersama Woohyun tadi.
.
.
.
.

Jiyeon bertelungkup di kasurnya, dengan tangan yang sedang mengotak-atik ponselnya. Ia terlihat sedang membuka account Facebooknya. Tak sengaja, matanya tertuju pada ‘saran teman’ yang muncul di ‘beranda’ nya. Dan ia sedikit mengernyit, saat melihat ID Nam Namoo di sana. Jiyeon merasa seperti pernah mendengar nama itu. Eh, tunggu… Nam Namoo? Ehm, namanya mirip seperti nama panggilan Woohyun. Ah iya, tadi pagi ia  mendengar Suzy menyebut-nyebut nama Namoo, dan itu adalah… nama panggilan Woohyun? Jangan-jangan… karena penasaran, akhirnya ia membuka ‘profil’ orang itu, kemudian membuka ‘koleksi foto’nya, dan itu memang benar. Itu Woohyun.

Jiyeon membuka ‘kronologi’ orang itu, dan membaca ‘status-status’nya. Dan, ia langsung mengernyit bingung sekaligus sedikit kesal saat menemukan sebuah ‘kiriman’ yang membuatnya iritasi.

 

Love You

 

“Apa ini? Hih! Bisa-bisanya dia mengirim status ‘love you’ di ‘kronologi’ Woohyun?!” gerutunya pada seorang gadis yang tak dikenalnya dengan ID nya yang lebay. Shinmi YeojyaImmuetPoenyaNamoo. Apalagi dengan foto profilnya yang benar-benar membuatnya jijik.

.

.

.

.

TBC

 

Halow, bertemu lagi yaaa.. okeh semuanya, thanks sudah baca 🙂

aku ucapkan terimakasih juga buat yang udah meninggalkan komentarnya di chap sebelumnya… pokoknya makasihhh bangettt deh hihi >.<

 

Ingin berkomentar, kah?

Advertisements

11 thoughts on “The First Time Say Love [Chapter 3]

  1. Jiyeon labil na bnr2… Tp ngakak pas Yoona nagih kas ke lay,,, pasti lucu bgt klo ada adegan d drama…Ħăª˚⌣˚Ħăª˚=D˚Ħăª˚⌣˚Ħăª˘•=)) dtggu lnjtn na fighting (҂’̀⌣’́)9

    Like

  2. Jiyeon mah gitu .. Labil ..

    Ooh ya thor di tunggu ya lanjutan ff Songsaenim~ ..

    Like

  3. lucu deh pas bagian yoonA sama mr.X atau lay XD

    Like

  4. Hahaha ngakak gw pas yoona nagih kas ke Lay.. Hedeh jiyeon lu sbenernya suka sm siape sih.. Ciee yg cemburuin bang woohyun.. Next thor..

    Like

tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s