Namitsutiti

The First Time Say Love [Chapter 2]

9 Comments


High School Love On-horz

Tittle » The First Time Say Love

Author » Namitsu Titi

Rate » PG-13

Genre » Friendship, School-life, Slice Of Life.

Cast » Park Jiyeon [T-ARA], Nam Woohyun [INFINITE], Im Yoona [SNSD], Choi Siwon [Super Junior]

Summary » ‘Astaga, jadi kita bersebelahan? Oh, ya ampun! Kemana saja aku ini?!’

Disclaimer » Semua cast milik orang tuanya masing-masing dan Tuhan YME. Popularitas Cast milik agency dan diri nya masing-masing. Tapi, alur cerita milik saya.

A/n : FF ini adalah FF remake chapter 1-3 di FF milik saya sendiri, dengan judul The First [Park Chanyeol-Yoo Ara Fanfiction].

.

© 2014 Namitsu Titi

.

.

.

~Happy Reading~

.

.

.

.

Awal bulan yang akan memasuki musim dingin di bulan ini, sudah terasa ‘keberadaannya.’ Jiyeon sesekali merapatkan jaketnya. Meskipun hawa dingin terasa di kulitnya, tapi ia masih berdiri setia di sana.
Di kelas terasa hangat, namun membosankan, tapi di sini, terasa dingin tapi menyenangkan.

Matanya tertuju ke bawah, ke halaman sekolah, dimana ia bisa melihat siswa-siswi sedang berlalu lalang.
Hatinya bersorak girang dan pipinya pun menghangat, saat seorang pemuda berambut pirang berjalan dengan teman sekelasnya -Suho- yang tengah memasuki halaman yang cukup luas itu.

Pemuda itu bernama Kris, Kris Wu. Seorang pemuda yang penuh kharisma, tubuh tinggi, rajin beribadah, dan memiliki Hair Style yang begitu memukau. Simple tapi ber-style dan enak dipandang.
Bagian ter-favorite dari Kris bagi Jiyeon adalah gaya rambutnya. Dan itu yang ‘membawanya’ hingga saat ini, alasan pertama Jiyeon mengagumi pemuda tampan itu. Yeah, hair at the first sign.

Jiyeon tampak merengut kecewa, karena pemuda yang menjadi incaran matanya telah hilang dari pandangannya, saat Kris sudah menaiki anak tangga. Tapi tak apa. Pikirnya.
Ia tahu, dengan tidak terlihat di halaman lagi, maka sebentar lagi Kris akan berada… di sini, mengagumi sosoknya dari dekat, dan… this is the time.

Jiyeon sedikit menunduk saat Kris hampir begitu dekat dengannya, dan ia tersenyum tipis saat Kris melewatinya, bahkan ia bisa mencium aroma tubuhnya.
Setelah Kris berlalu dari hadapannya, ia segera mengangkat kepalanya, seperti semula, kemudian menatap punggung pemuda itu dengan hati gembira, hingga pemuda jangkung itu memasuki kelasnya, 1-B, yang letaknya bersebelahan dengan kelasnya.

Tak lama, bel pelajaran pertama pun berbunyi. Tapi, Jiyeon malah bersantai-santai di sana, berada di dekat tembok pembatas bersama beberapa teman sekelasnya.

Entah itu refleks atau apa, ia menengok ke arah kanan. Dan dahi gadis itu mengerut bingung. Ia melihat seorang pemuda yang dikiranya adalah kakak kelasnya. Dia… Woohyun!

Jiyeon segera mengalihkan pandangannya ke arah kiri, saat Woohyun melewatinya. Ia terus menatap Woohyun, kemana pemuda itu berjalan.

Dan… Jiyeon mengerjab tak percaya, saat Woohyun memasuki kelas 1-B, dimana Kris berada.

‘J-jadi… dia berada di kelas 1-B? Kelasnya Kris? Dan bukan sunbae?! Astaga, jadi kita bersebelahan? Oh, ya ampun! Kemana saja aku ini?!’

Hahhh… sebenarnya kau tidak pergi kemana-mana, Jiyeon. Kau hanya lupa… oh bukan-bukan, lebih tepatnya kau tidak memperhatikan sekelilingmu.
Bukankah saat pengumuman olimpiade, kepala sekolah dengan jelasnya mengatakan, ‘Kepada saudara Kris Wu dari kelas 1-B, silakan maju ke podium. Selanjutnya, Nam Wohyun dari kelas 1-B bla… bla… bla…,’
Kau nya saja yang terus menatap Kris, tanpa mempedulikan sekitarnya, dasar!
.
.
“Kau sedang menulis apa, Yoona?” tanya Jiyeon, saat melihat Yoona tengah mengukir sesuatu -seperti sebuah nama- di buku catatannya, halaman paling belakang.

Yoona sedikit terkaget, kemudian langsung menutup bukunya dengan ekspresi gugup, saat Jiyeon mencoba melihat apa yang tengah dilakukannya.

“B-bukan apa-apa hehe…,” jawabnya canggung.

“Oh,” gumam Jiyeon, kemudian mengajak ngobrol temannya, yang duduk di depannya, karena sepertinya Yoona sedang sibuk dengan bukunya.

“Anak-anak, berhentilah berbicara sendiri, karena kelas akan dimulai!” ucap seorang guru yang baru saja memasuki kelas itu, dengan suara lantang. Dan semua siswa langsung terdiam.
.

.

.

.


Jiyeon berdiri di ambang pintu sembari celingak-celinguk ke segala arah, mencari sahabatnya, untuk diajaknya ke kantin. “Aishhh… kemana dia?!” gerutunya.

Jiyeon akan menguap, bahkan mulutnya sudah mulai terbuka lebar, tapi langsung mengatup lagi, saat melihat Wohyun berjalan melewatinya. Hampir saja, harga dirinya jatuh, karena menguap seenaknya, tanpa menutup mulutnya.

“Hei, kalian mau ke mana?” tanya Jiyeon pada dua orang gadis yang baru saja melewatinya.

“Ke kantin. Kenapa?” jawab salah seorang dari kedua gadis itu.

“Kalau begitu aku ikut!”
.
.
.
.
Sunbae…,” panggil Yoona pada seorang pemuda yang tengah menempelkan lembaran-lembaran yang berisi karya-karya yang dibuat oleh siswa, di Mading.

Ne?” sahut pemuda itu, setelah menoleh ke arah Yoona.

“A-anu… bolehkah aku membantumu menempelkan lembaran-lembaran itu, Siwon Sunbae?”

Pemuda yang bernama Siwon itu tersenyum hangat, dan itu membuat Yoona merona.

“Baiklah. Kalau begitu kemarilah.”

Yoona berjalan mendekati Siwon dengan malu-malu. Heh, tak rugi juga dirinya menghilang dari kelas, khususnya Jiyeon, karena ia disambut hangat oleh pemuda berlesung pipi itu.

“Ngomong-ngomong siapa namamu?”

“E-ehmm… Yoona, Im Yoona, sunbae…,”
.
.
.
.
Jiyeon dan kedua temannya menenteng sebuah kantong plastik kecil, yang di dalamnya berisi beberapa makanan cemilan, ditemani dengan obrolan mereka, tentang cemilan yang baru dibelinya.
Saat menoleh ke depan lagi, matanya tak sengaja bertemu pandang dengan seorang pemuda yang sedang duduk tak jauh darinya.
Ia mulai gelisah, saat jarak dirinya dengan pemuda itu semakin dekat.

Haruskah ia menyapanya? Tapi… tapi ia masih malu dengan pemuda itu, gara-gara jantungnya berdegup samar tempo hari. Tapi kalau ia tidak menyapanya, Jiyeon takut jika Woohyun menganggapnya gadis sombong, yang hanya sekedar menyapa pun tak mau.

‘Ah, sial! Ngomong apa, ya? Ah… apa itu saja, ya?’ Jiyeon mengangguk samar, kemudian, “Eh, nanti setelah pulang sekolah kumpul dulu, ya!” ucapnya, sambil menahan nafas. Ia tidak yakin, jika ia akan berbicara lancar kalau tidak sambil menahan nafasnya. Pasti suaranya akan bergetar, meski samar.

Woohyun menatap bingung pada seorang gadis yang berbicara kepadanya. “Untuk apa?”

He? Kali ini Jiyeon benar-benar tidak mengerti dengan dirinya. Apakah error? Entah itu salah lihat atau tidak, tapi yang ditangkap oleh mata dan perasaannya, Woohyun nampak sedikit gelagapan saat hendak berkata, yah meski hal itu terlihat samar.

“Mendiskusikan barang bawaan untuk KIR,” jawabnya cepat.

Jiyeon baru akan mendorong pintu keluar Minimarket -salah satu fasilitas sekolah- tapi ia urungkan, karena Woohyun bertanya lagi.

“Kumpulnya di mana?”

“D-di depan kelas 1-C,” jawabnya dengan suara sedikit gugup. Well, ia sudah tidak bisa menahan dirinya, terlebih lagi Woohyun terus-terusan menatap matanya dalam, saat keduanya melakukan pembicaraan singkat tadi. Setelah mengucapkan kalimat itu, ia benar-benar keluar dari Minimarket itu, sedangkan kedua temannya sudah menunggunya di luar.

“Ciee… yang mau ketemuan~” goda salah satu temannya, saat mereka sudah berada di luar area Minimarket.

“Y-yaakk! B-bukan ketemuan! Hanya mendiskusikan KIR saja!” Jiyeon mencoba mengelak. Heh, tapi jangan salahkan tubuh dan perasaannya jika berbanding terbalik depan apa yang diucapkannya. Buktinya, ia salah tingkah dan jangan lupakan pipinya juga memerah karena malu.

“Ohhh… benarkah~?” kali ini gadis berambut sebahu ikut menimbrung.

“Iya!” jawa Jiyeon cepat.
.
.
.
.
“Suho!” Panggil Jiyeon dari tempat duduknya.

Suho yang baru saja menutup pintu,  langsung menoleh ke arah seorang gadis yang memanggilnya.

“Apa?” Suho menyahut dengan nada malas.

Jiyeon bangkit dari duduknya, kemudian berjalan menghampiri Suho. “Nanti setelah pulang sekolah, kita kumpul dulu, ya. Aku sudah membicarakan ini dengan Woohyun tadi.”

“Nanti? Jangan nanti, aku tidak bisa.”

“Apa? Hei, kemarinkan saat aku tanya, kau sudah setuju!”

“Tapi nanti ada urusan mendadak,” elak Suho seraya meninggalkan Jiyeon dengan cuek.

“Yah! Yak, Suho! Kau tidak bisa seenaknya begitu!” teriak Jiyeon, namun saat mendekati protesan terakhirnya, suaranya tidak begitu jelas, karena bel jam istirahat terakhir berbunyi, yang berarti pelajaran terakhir akan dimulai.
Dengan kesal, ia kembali ke tempat duduknya.
Setelah rasa kesalnya sedikit menghilang, ia kembali mengintrogasi Yoona. Menanyakan kembali, kemana Yoona menghilang saat jam istirahat.

.

.

.

.


“Yoona, kau tunggu di sini. Aku ingin menemui Woohyun dulu,” ucap Jiyeon sambil sesekali melirik Woohyun yang tengah bercandaan dengan temannya di depan kelas 1-B.

Yoona melirik Woohyun sekilas, “Kau yakin ingin menemui Woohyun?” tanya Yoona tidak yakin.

“Iya. Sudah kau diam saja di sini.” Jiyeon perlahan menghampiri Woohyun, meski rasa gugup mulai menghinggapinya. Sembari berjalan mendekati Woohyun, ia memperhatikan cara berpakaian pemuda itu yang benar-benar ber-style, apalagi dengan rambutnya.

“Woohyun,” panggil Jiyeon yang terkesan sedikit pelan. Untungnya, suaranya bisa sampai di telinga Woohyun.

Woohyun menghentikan pembicaraan dengan temannya, masih dengan mulut sedikit terbuka, ia menoleh ke arah Jiyeon, kemudian menghampiri gadis itu.

Jiyeon sedikit berdehem kecil, “Woohyun, kumpulnya tidak jadi, ya. Soalnya Suho malah pulang.” Dan ia langsung pergi meninggalkan Woohyun, tanpa mendengar apa yang akan diucapkan Woohyun dulu.
Saat Jiyeon dan sahabatnya akan menuruni tangga, tiba-tiba saja Woohyun berhenti di hadapan Jiyeon, dengan nafas yang sedikit terengah. 

“Kalau wajannya meminjam di club memasak, bagaimana?” tanyanya sembari tersenyum lebar.

“Apa boleh?” Jiyeon menahan gugupnya mati-matian, karena Woohyun terus-terusan tersenyum padanya. Lantas, ia menengok ke belakang, ke arah Yoona. Kemudian, “Yoona, apa Woohyun tersenyum padaku?” bisiknya sembari tersenyum salah tingkah.

Yoona yang mendapat pertanyaan aneh dari Jiyeon mengerutkan dahinya bingung.
Mendapat reaksi Yoona yang seperti itu, Jiyeon menatap Woohyun lagi.

“Ya, nanti tinggal bilang saja.”

Ya, Tuhannn… Jiyeon benar-benar salah tingkah sekarang. Apalagi jantungnya ikut berdegup.
Mengabaikan Woohyun dan Yoona, Jiyeon segera menuruni anak tangga itu dengan langkah cepat.

Jiyeon memegang dada kanannya yang masih berdegup samar, saat ia sudah berada di halaman sekolah dekat tangga itu.
Jiyeon menatap ke arah tangga itu, dan melihat Yoona di sana.

“Kau itu kenapa, sih?” tanya Yoona heran, saat ia sudah berada di samping Jiyeon.

Jiyeon diam saja, kemudian menengadah ke atas, ke lantai kelasnya berada, dan melihat Woohyun di sana.

.

.

.

.

To be Cotinued.

 

hai haii… makasih yah udah baca hehe.. oya, thanks buat yang sudah meninggalkan komentar dan penilaiannya di chap sebelumnya.

Pokoknya, thanks banget lah :v

 

Ingin berkomentar, kah?

Advertisements

9 thoughts on “The First Time Say Love [Chapter 2]

  1. Cieee jatuh hati/? Hahahaha lanjut cyin/?

    Like

  2. Huahaha kok gw malah ikutan salting yeth.. Ciee ciee..

    Like

tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s