Namitsutiti

Songsaenim~ [Part 1/2]

53 Comments


cover-ff-80

Credit poster by popowiii artwork | SHINING VIRUS

Tittle » Songsaenim~

Author » Namitsu Titi

Rate » T

Genre » Friendship, School-life, Romance

Length » Twoshoot

Cast » Park Jiyeon [T-ARA], Xi Luhan [EXO]

Summary » “Ohh… biar saja songsaenim. Hei, songsaenim… menolehlah padaku,” menghembuskan nafasnya ke pipi Luhan.

“Aku tahu yang ada di pikiranmu.”

“Ah… begitu, ya?” Jiyeon berpura-pura mendesah kecewa. “Baiklah, karena songsaenim sudah tahu, aku tidak jadi melakukannya. Aku ke kelas ya, songsaenim!” ucapnya, masih belum menjauhkan wajahnya,

‘CHUP…’

Disclaimer » Semua cast milik orang tuanya masing-masing dan Tuhan YME. Popularitas Cast milik agency dan diri nya masing-masing. Tapi, alur cerita milik saya.

A/n : FF ini telah ditulis ulang dengan main cast perempuan diganti OC dan telah saya share di facebook.

.

© 2014 Namitsu Titi

.

.

.

~Happy Reading~

.

.

.

.

‘TAP… TAP… TAP’

Derap langkah kaki seorang gadis terdengar di ruangan yang dipenuhi ratusan buku itu.
Gadis itu mendekati seorang pemuda berkemeja putih yang tengah duduk sendirian di salah satu meja yang ada di sana.

Songsaenim, apa aku boleh duduk disini?” tanya gadis itu dengan suara berbisik, takut mengganggu yang lainnya. He? Bukankah ia sudah mengganggu yang lain? Saat dirinya melangkah dengan meninggalkan derap langkah yang cukup keras?

“Tentu,” sahut pemuda itu.

Gadis cantik itu segera mendudukkan pantatnya di sebelah pemuda yang dipanggil ‘songsaenim’ itu, dengan senyum mengembang di wajah cantiknya.
Ia menyangga kepalanya dengan tangan kirinya di atas meja.
Tatapan matanya, ia arahkan ke wajah seorang pemuda tampan di sebelahnya, menelusuri tiap jengkal lekuk wajah pemuda itu. Sedangkan objek yang tengah dipandang oleh gadis cantik itu hanya fokus pada buku bacaannya.

Lima belas menit pun berlalu, dan gadis cantik itu masih tetap sama dengan posisi awalnya, setia memandangi wajah tampan di sampingnya.
Terlalu lama menatap ternyata memberikan efek yang ‘cukup’ pada dirinya.
Tanpa sadar, gadis cantik itu mendekatkan wajahnya ke arah pemuda tampan itu, hingga beberapa senti lagi ‘tepat sasaran.’

“Jiyeon…,” ujar pemuda tampan itu.

Ne, Luhan Songsaenim?” jawab seorang gadis yang dipanggil Jiyeon itu, dengan nafas yang terhembus ke pipi kanan pemuda bernama Luhan itu.

“Jangan terlalu dekat. Nanti kau jatuh cinta padaku,” ucap Luhan, membuka lembaran baru lagi pada buku itu.

“Ohh… biar saja songsaenim. Hei, songsaenim… menolehlah padaku,” menghembuskan nafasnya ke pipi Luhan.

“Aku tahu yang ada di pikiranmu.”

“Ah… begitu, ya?” Jiyeon berpura-pura mendesah kecewa. “Baiklah, karena songsaenim sudah tahu, aku tidak jadi melakukannya. Aku ke kelas ya, songsaenim!” ucapnya, masih belum menjauhkan wajahnya,

‘CHUP…’

Kemudian berdiri dari duduknya, dan berjalan santai keluar dari perpustakaan.

Luhan kembali membuka halaman selanjutnya. Setelah selesai membacanya, ia menutup buku itu, kemudian mengembalikannya ke rak buku yang sesuai dengan jenis buku yang dibacanya.

Luhan mengabaikan orang-orang yang sedari tadi menatap dirinya cengo, semenjak Jiyeon mencium Luhan hingga terdengar suara kecupannya, dan pemuda tampan sekaligus manis itu hanya diam saja.
Luhan keluar dari ruangan itu dengan tak kalah santainya seperti Jiyeon tadi.
.
.
.
.
Jiyeon hanya fokus dengan apa yang dilakukannya dengan buku catatannya -menggambar wajah Luhan- meskipun teman-teman sekelasnya tertawa terbahak-bahak dengan candaan guru yang mengajar di pelajaran keempatnya.

Sebenarnya Jiyeon mengabaikan guru itu bukan karena cara mengajarnya yang membosankan, tapi karena ia sedang ingin saja menggambar wajah pemuda tampan bernama Luhan. Ah, tapi setiap guru yang mengajar di kelasnya, Jiyeon juga selalu mengabaikan guru-guru itu, kecuali satu orang guru yang bernama Xi Luhan.
Guru itu keluar dari kelas Jiyeon saat kelasnya berakhir.

Jiyeon melepaskan blazernya, dan membuka satu kancing atasnya, sehingga leher putih jenjangnya semakin terekspos.

Tak lama, guru yang akan mengajar di pelajaran selanjutnya, memasuki kelas itu.

Semua siswi -kecuali Jiyeon- menjerit kegirangan dalam hatinya, saat guru muda nan tampan bernama Luhan berjalan ke mejanya.

“Bisa kita mulai pelajarannya?” tanya Luhan memecahkan keheningan kelas itu. Kelas yang sepi seperti kuburan di kelas 2-D ini sudah biasa, semenjak Jiyeon memberi tatapan tajamnya pada siswi-siswi yang menjerit layaknya orang gila kala itu.

Ne~” jawab penghuni kelas itu pelan.

Jiyeon bangkit dari duduknya, lalu berjalan menuju meja Luhan.

Songsaenim, aku yang membersihkan papan tulisnya, boleh?”

Luhan mengangguk sembari tersenyum tipis, yang sesungguhnya membuat siswi-siswi di belakang Jiyeon ingin ber-kyaaa-ria.

Selagi Jiyeon sedang membersihkan tulisan-tulisan yang telah menodai papan tulis itu, Luhan berjalan menuju tempat duduk Jiyeon, dan mengambil ‘sesuatu’ di sana.

Jiyeon berbalik menghadap Luhan dengan kerah kemejanya yang sedikit tersingkap akibat aktivitasnya tadi.

“Luhan Songsaenim, sudah bersih ya. Songsaenim bisa menulis penjelasan-penjelasan songsaenim sekarang.”

“Terimakasih.” Luhan tersenyum, kemudian memakaikan blazer itu ke pemiliknya.

Jiyeon hanya diam saja saat Luhan memakaikan blazernya. Ini sudah biasa.
Setiap Luhan mengajar di kelas ini, Luhan selalu telaten memakaikan blazer itu pada Jiyeon, sebelum memulai aktivitas mengajarnya. Jika tidak begitu, selama kelasnya, Jiyeon tidak akan memakai blazernya.

Luhan melakukan itu, agar semua siswa di kelas ini tidak terus-terusan menatap Jiyeon ‘lapar’ karena cara berpakaian yang tidak pantas dilihat. Sedangkan semua siswi -kecuali Jiyeon- hanya menunduk merona dengan perlakuan Luhan pada Jiyeon, terlebih lagi saat Luhan mengatakan-

“Kancingkan lagi bajumu, Jiyeon.”

-yang begitu ‘wah’ jika didengar tanpa ‘disaring’ terlebih dahulu.
.
.
.
.
Jiyeon memasuki ruangan Luhan dengan dua kotak bekal makan siang di tangannya.
Jiyeon menatap kesal pada seorang guru wanita yang tengah berbicara dengan Luhan, dan tangan wanita itu yang tidak bisa diam, karena sesekali memegang pundak Luhan.

‘Bruk…!’

Jiyeon menaruh bekalnya dengan sedikit kasar di atas meja Luhan.
Kedua orang yang lebih tua dari gadis cantik itu menatap Jiyeon bingung.

Jiyeon menatap sengit wanita itu. “Lee Songsaenim… apa pembicaraannya sudah selesai?” tanya Jiyeon, mengusir wanita itu dengan cara ‘halus.’
Matanya menatap tajam sekaligus meremehkan pada wanita tua itu -menurutnya.

“O-oh, ne. Luhan-ssi, saya permisi.”

Luhan mengangguk sembari tersenyum ramah.

Songsaenim, ayo makan.” Jiyeon membuka bekal untuk Luhan, kemudian membuka bekal miliknya.

“Terimakasih. Woahh… kelihatannya ini sangat lezat!”

Jiyeon tersenyum, mendengar pujian pemuda tampan itu yang tengah menatap makanan yang dibuatnya dengan mata berbinar.

“Ehmm… songsaenim. Hari minggu ada di rumah, tidak?” tanya Jiyeon di sela-sela makannya.

“Emmm… sepertinya tidak.”

“Memangnya songsaenim akan pergi kemana?”

Luhan mengambil sesendok sayur di kotak bekal Jiyeon tanpa izin.

Yak!” protes Jiyeon.

Songsaenim harus menjemput kekasih songsaenim.” Kemudian menyuap makanan yang telah dicurinya.

Mendengar itu, Jiyeon berhenti mengunyah makanannya, kemudian menelannya dengan… susah payah.
.
.
.
.
Songsaenim, aku ikut pulang lagi, neee…,”

“Tentu.”

“Jiyeonnn…,” panggil seorang pemuda tampan dari arah belakang Jiyeon. “Hahhh… kau akan pulang dengan Luhan Songsaenim, lagi?” tanyanya sembari memperhatikan pakaian Jiyeon yang terlihat aneh.

Ne!”

“Aish, kau ini. Berpakaianlah yang benar,” komentar pemuda berambut pirang itu sembari mendekatkan jarinya ke arah kancing baju atas Jiyeon yang terbuka.

“Jiyeon, jadi pulang dengan songsaenim, tidak?” tanya Luhan saat melihat salah satu siswanya akan mengancingkan baju Jiyeon.

“Tentu saja!” sahut Jiyeon cepat sambil mendekati Luhan yang berdiri di samping mobilnya.

“Kris, aku duluan, ya!” Jiyeon langsung memasuki mobil Luhan.
.
.
“Kancingkan dulu bajumu,” titah Luhan yang melihat kancing atas Jiyeon yang belum terkancing. Sepertinya pemuda tadi gagal mengancingkannya.

“Biar saja, songsaenim,” jawab Jiyeon ketus.

“Jiyeon…”

“Jika menyuruh lagi, aku buka lagi kancing kedua!”

Luhan hanya bisa diam saat melihat raut wajah Jiyeon yang sepertinya sedang bad mood.
.
.
.
.
Mobil Luhan berhenti di depan gerbang kediaman keluarga Park, rumah orangtua Jiyeon.
Sebelum turun dari mobil Luhan, Jiyeon mengambil blazernya yang tersimpan di tasnya, kemudian dipakai lagi blazernya. Jika saja ibunya tahu cara berpakaiannya seperti saat di hadapan Luhan, Jiyeon sudah menebak bahwa dirinya akan dimarahin habis-habisan.

Jiyeon mengancingkan lagi baju atasnya yang tidak terkancing. Sedangkan Luhan hanya menatap diam saat gadis cantik itu tengah mengancingkan bajunya, yang entah mengapa cara Jiyeon mengancingkan bajunya terlihat begitu pelan, seolah-olah sedang menggodanya.

Songsaenim… songsaenim…!”

“A-ah, ne?” Luhan terlihat salah tingkah, karena ia tertangkap basah tengah memperhatikan apa yang telah dilakukan gadis itu tadi.

“Terimakasih atas tumpangannya, ya!”

Luhan mengangguk sembari tersenyum.

“Sampai jumpa!” Jiyeon keluar dari mobil Luhan setelah mengecup sekilas pipi Luhan.

.

.

.

.

TBC

 

hahhhh… sebenarnya aku agak merinding saat menulis ff ini, karena ada ‘scene’ disana haha.. ini pertama kalinya aku bikin ff yang kayak beginian hehe…

ff ini gak bakal panjang kok, hanya dua part tok heheh..

Thanks ya, udah baca.. 😀 dan sekaranggggg… saatnya meninggalkan komentarnya yaaaaa hehe…

Advertisements

53 thoughts on “Songsaenim~ [Part 1/2]

  1. lagi bosen ngk ada ff baru yg bisa dibaca.jadi baa lagi ff ini.
    tapi aq lebih suka ff kayak gini thor.
    dangerous fantasy nya kapan dilanjutin

    Like

  2. ah jiyi .. kris ge ko g di tanggep..

    Like

  3. aku msh blm paham alur crtanya

    Like

tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s