Namitsutiti

Because Of Anime [Chapter 3]

Leave a comment


becauseofanime-namitsu

[Credit : poster by Doremigirl ]

Tittle » Because Of Anime

Author » Namitsu Titi

Rate » PG-13

Genre » Friendship, School-life, little sad.

Cast » Krystal Jung F(X), Kim Jongin [EXO], Oh Sehun [EXO], DO Kyungsoo [EXO]

Disclaimer » Semua cast milik orang tuanya masing-masing dan Tuhan YME. Popularitas Cast milik agency dan diri nya masing-masing. Tapi, alur cerita milik saya.
.
© 2014 Namitsu Titi
.

.
.

~Happy Reading~

.

.

.

.

Krystal hanya tersenyum saat melihat beberapa teman sekelasnya sedang narsis berfoto-ria di depannya.
Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling, kemudian melihat Kyungsoo yang tengah menatap orang-orang yang sedang berenang di kolam yang luas itu.

 

Krystal melangkahkan kakinya, mendekati Kyungsoo.

“Hei, Kyung. Kau tidak ikutan berfoto?”

“Malas. Kryst, kau dari tadi diam saja. Pasti karena tidak ada Jongin, kan?”

Krystal hanya diam. Namun di dalam hati, ia juga membenarkan perkataan Kyungsoo. Yeah, tidak ada Jongin ia merasa sedikit kesepian.

“Ayo, kita berkeliling!” ucap salah seorang teman Krystal.
“Ayo Kyung,” ajak Krystal.

 

Krystal dan beberapa temannya tidak ikut berenang. Mereka mengatakan karena tidak berminat untuk berenang.
Andai saja Krystal tidak merasa sedikit pusing dan mual, pasti ia juga ikut berenang dengan teman yang lainnya.
Akhirnya, yang tidak berenang hanya berjalan-jalan di sekitar.

.
.

Krystal merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel, karena ada pesan masuk. Ia menatap layar ponselnya untuk melihat siapa yang mengirimnya pesan.

‘Jongin?’ gumam Krystal dalam hati.

‘Kryst, apa masih di wisata kolam renang?’

Krystal mengetikkan beberapa kata untuk membalas pesan pemuda itu.

“Masih. Mungkin sekitar sejam lagi kami akan ke Taman Wisata.”

‘Oh. Ehm… Kryst, coba tanya ke Cha Mi, kenapa tadi dia misscall nomorku.’

“Bukan misscall, Jongin. Dia telfon.”

‘Mau apa?’

“Yah, mengobrol mungkin.”
Saat Krystal dan rombongannya masih di perjalanan, Krystal memang sempat mendengar pembicaraan Cha Mi dengan teman-temannya mengenai Jongin. Salah satu temannya juga menyuruh Cha Mi menelfon Jongin untuk menanyakan ‘apa yang sedang dilakukan Jongin sekarang’ tapi Krystal sedikit heran dengan Jongin. Bukankah pemuda itu sempat mengangkat panggilan Cha Mi? Bahkan ia juga mendengar suara Jongin karena Cha Mi me-loudspeaker-kan, saat di Bus.
Ponsel Krystal bergetar lagi, kemudian ia membaca pesan yang dikirimkan Jongin.

‘Aku rindu dengan Kyungsoo haha…’
Sembari tersenyum tipis, ia mengetikkan balasan pesan untuk Jongin.

“Haha… kalau denganku, sih? Kau tahu tidak, dari tadi Kyungsoo hanya diam saja. Kasihan sekali.”

Krystal kembali mensejajarkan langkahnya dengan teman sekelasnya untuk kembali ke tempat peristirahatan, setelah lelah berkeliling.

‘Haha… iya.’

‘Jawaban ambigu,’ pikir Krystal. ‘Iya’ untuk mengatakan kalau Jongin rindu pada gadis itu atau meng‘iya’kan mengenai Kyungsoo? Tapi Krystal merasa jawaban ‘iya’ Jongin untuk kata ‘iya, aku juga rindu padamu’ HAHAH.

.
.
.
.

Jongin menyimpan kembali ponselnya ke saku, setelah selesai berkirim pesan dengan Krystal. Jongin kembali melangkahkan kakinya untuk pulang. Ia telah melakukan ‘acara wajibnya’ dari jam sembilan pagi hingga kini jam dua sore, ia baru pulang dari game center. Di sana dia bukan bekerja, melainkan bermain game yang bahkan hampir memakan waktu setengah hari. Mumpung liburan. Katanya.
.
.

‘Tuk… tuk… tuk…’

Jongin menghentikan langkahnya karena ada seseorang yang ‘menganiaya’ punggung nya dengan sesuatu. Jongin menoleh dengan hati-hati ke belakang. Tidak dapat dipungkiri juga, kalau di dalam hatinya ia merasa sedikit takut. Ia takut jika yang melakukan itu adalah seorang preman.
Setelah sepenuhnya menoleh ke belakang, Jongin langsung menatap tajam orang itu.

“Apa yang kau lakukan, eoh?!”

“Hehe… hanya menyapamu, oppa~”
Jongin mendengus. Menyapa katanya? Menyapa dengan mengetuk-ngetukkan punggungnya dengan tongkat baseball?

Jongin kembali melangkahkan kakinya, mengabaikan gadis itu.

Oppaoppa… tunggu!” gadis itu mensejajarkan langkahnya dengan Jongin.

Oppa… apa Jongdae ada di rumah?”

“Tidak tahu,” jawab Jongin ketus.

“Hei, hei, oppa... kau jangan ketus-ketus padaku. Aku ini calon pacar adikmu, oppa.”

“Heh, Hana. Sejak kapan kau jadi pedo begitu. Mana mau adikku dengan ahjuma-ahjuma.”

Oppa~ kau tak boleh mengataiku begitu. Begini-begini aku juga mantanmu. Ingat itu, oppa…”
Hana adalah mantan pacar Kim Jongin. Keduanya hanya berpacaran selama lima bulan, saat Jongin baru memasuki tahun keduanya di sekolahnya. Sedangkan Hana baru kelas satu. Dan setelah keduanya putus, tak disangka gadis itu malah kepincut dengan adiknya Jongin.

Oppa, aku ikut ke rumahmu, ya!”

“Terserah.”

.
.
.
.

Krystal memakan jeruknya sembari sesekali melirik Sehun yang sedang mengambil baju ganti di tasnya. Sehun ikut renang, jadi bajunya basah.
Krystal menatap sinis pada baju sepak bola yang dikenakan Sehun. Ya, Sehun memang renang dengan baju itu. Mungkin renang sambil bermain sepak bola. Pikirnya asal.
JAEHUN. Itu adalah nama punggung yang terlihat jelas di baju bagian belakang Sehun.

‘Cih, ternyata Sehun belum bisa melupakan mantan kekasihnya.’
JAEHUN adalah gabungan nama dari Jaerin dan Sehun.
Krystal kembali memakan jeruknya dengan kesal. Sebenarnya Krystal tidak tahu, memakan jeruk saat kondisi tubuhnya seperti ini baik atau tidak, tapi ia terus memakannya, meski lambungnya mulai terasa tidak nyaman.
Setelah semuanya yang ikut renang berganti baju, mereka bersiap-siap untuk melanjutkan perjalan ke Taman Wisata. Mereka akan bersantai di sana sampai jam enam sore.

.
.

Krystal berjalan lemas keluar dari area kolam renang bersama dengan yang lainnya. Sebelah tangannya memeluk perutnya sendiri. Ia menyesal. Kalau tahu akan begini jadinya, ia tidak akan makan jeruk tadi.

“Kryst, kau kenapa? Mules, apa?” tanya Sehun sambil berjalan melewatinya.
Krystal mendengus kecewa. Ia pikir Sehun akan berjalan bersama di sampingnya, tapi ternyata hanya seperti itu saja?

“Bukan, aku…,” jawabnya pelan, lalu tidak melanjutkan ucapannya lagi. Percuma, Sehun sudah berjalan di depannya. Well, diacuhkan. Mungkin jika bisa dikata.

‘Sehuuunnn… Uh, kenapa kau meninggalkanku, sih? Ahh… kau tegaaa, Sehun~’

Ya, Tuhan. Sejak kapan Krystal jadi nge-batin seperti itu? Terdengar manja. Oh, jangan-jangan karena tadi ia memakan jeruk… atau Jongin?
Heee? Ya! Bisa saja. Krystal biasanya bersifat kekanakan jika di depan Jongin. Tapi sekarang, mana? Jongin tidak ada di sini.

.
.
.
.

“Heh? Apa yang kau lakukan? Cepat ke sana. Kau bilang ingin bertemu Jongdae,” ucap Jongin sembari menahan kekesalnya pada gadis yang bersembunyi malu-malu di belakang punggungnya, sambil mencengkram baju bagian belakang Jongin.
Keduanya sudah berada di ruang tengah, dan Jongdae juga ada di sana, sedang menonton televisi. Namun sayangnya, Jongdae belum menyadari kehadiran kedua orang itu.
Hana menggeleng-gelengkan kepalanya, “Aku maluuu… oppa, denganmu saja, ya~ yaaa…”

Jongin mendengus, “Kau saja sana, aku mau ke kamar.”

Nunna?” tanya Jongdae yang sepertinya sudah menyadari kalau ada orang lain di ruangan ini selain dirinya.

Hana menoleh ke arah Jongdae dengan kaku. “N-ne?”

“Kenapa berdiri di situ? Kemarilah,” ajak Jongdae sambil tersenyum dan menepuk-nepuk space di sampingnya.
Dengan malu-malu Hana berjalan mendekati Jongdae. Sedangkan Jongin hanya tersenyum tipis dalam hatinya, kemudian berjalan menuju kamarnya.

.
.

Jongin merebahkan tubuhnya di kasur, dengan pandangannya yang tertuju pada langit-langit kamar. Tidak butuh waktu lama lagi, ia pun tertidur.

.
.
.
.

Jongin tengah berkutat dengan dapurnya. Meskipun ia seorang laki-laki, tapi ia cukup lumayan jika berhubungan dengan memasak. Setelah bangun tidur, perutnya terasa lapar, padahal ini baru jam lima sore, belum masuk waktu makan malam. Mungkin bawaan tidur. Pikirnya.

“Kau sedang apa, hyung?” tanya Jongdae sambil mengambil gelas mug di almari perlengkapan dapur.

“Tanpa diberi tahu pun, aku rasa kau tahu aku sedang apa.”

“Iya, iya, aku tahu. Huh!”

“Kapan Hana pulang?”

“Eum… mungkin sekitar jam setengah empat.”

Jongin manggut-manggut.” Euhm… apa kau tahu, kalau dia menyukaimu?”
Jongdae hanya diam, kemudian meminum airnya. Setelahnya, Jongdae pergi meninggalkan dapur, tanpa menjawab pertanyaan kakaknya.

Jongin hanya mendengus kesal saat adiknya itu mengabaikannya.

.
.
.
.

Krystal mencondongkan tubuhnya ke arah Amber, kemudian berbisik, “Tolong ambilkan fotoku saat aku di dekatnya, ya!”

Amber mengangguk mengerti. Krystal memang sudah tidak malu lagi jika membicarakan tentang Sehun pada Amber. Dan tentu saja, gadis tomboy itu sudah mengetahui perasaan Krystal, bahwa temannya itu menyukai Sehun.
Krystal segera berjalan ke belakang Sehun, yang sedang duduk bersantai di rumput hijau dan di sekelilingnya ditumbuhi beberapa pohon kecil. Krystal memposisikan dirinya duduk di belakang Sehun, dengan jarak yang cukup dekat. Sedangkan Amber berdiri di depan Sehun, cukup dekat, dan berpura-pura tidak mengarahkan kameranya ke arah Sehun, tapi ke Krystal, meski sebenarnya kamera itu juga tertuju pada Sehun. Dan keadaan semakin mendukung, karena Sehun tidak sedang memandang ke arah Amber, tapi ke sampingnya.
Dan… dapat! Amber berhasil mengambil foto Krystal dan Sehun. Ia juga mendapatkan foto Sehun yang sedang sendiri. Kystal pasti sangat senang. Pikirnya.

Amber segera mendekati Krystal saat sudah menyelesaikan ‘tugas’nya.

“Lihat…,” bisik Amber sambil memperlihatkan hasil jepretannya.

“Woahhh…! Terimakasih… terimakasih!” Krystal berbinar-binar menatap foto itu.
Amber hanya tersenyum menanggapinya.
Hari sudah mulai menggelap. Mereka segera bersiap-siap untuk kembali ke Bus, dan pulang.
Saat mendengar kata Bus, Krystal mulai mual lagi. Ia tidak bisa menguatkan tubuhnya untuk tidak mual kali ini. Dan ia hanya bisa pasrah saja jika harus muntah lagi di Bus.
Lelah, lemas, mual, dan pusing. Andaikan besok tidak ada pelajaran matematika, pasti ia tidak akan berangkat sekolah.
.
.
“Kau tidak apa-apa, Kryst?” tanya Sehun yang melihat keraguan Krystal untuk menaiki Bus lagi.
Krystal menggeleng sambil tersenyum tipis.

“Ayo, naik.” Krystal mengangguk, kemudian menaiki Bus itu, meski di dalam hatinya ia ingin sekali kabur.

‘Terimakasih sudah perhatian untuk hari ini Sehun. Hanya dengan sapaanmu saja, kau sudah menguatkan dan menyemangatiku. Terimakasih, Oh Sehun,’ gumamnya, kemudian tersenyum dalam hatinya.

.
.
.
.

Pukul 20:05, Krystal baru tiba di rumahnya. Tentu saja rasa mual dan pusingnya masih belum hilang. Ia muntah lagi dua kali saat di Bus. Tersiksa memang. Tapi mau bagaimana lagi. Ini demi kelasnya dan juga… kapan lagi ia bisa berlibur bersama Sehun dengan jarak yang sedekat itu. Apalagi ini adalah liburan di tahun kedua pada masa SMA-nya. Tahun, yang dimana masa paling istimewa daripada masa-masa di tingkat sekolah lainnya -menurutnya.

‘Kira-kira Jongin sedang apa, ya?’

Krystal memutuskan untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu, makan, kemudian mengirim pesan pada Jongin.

.
.
.
.

Krystal kembali ke kamarnya dengan kadaan perut yang sudah terisi, tubuhnya juga sudah bersih dan wangi. Ia mengambil ponselnya yang berada di meja nakas.

Krystal membuka kunci layarnya dan melihat sebuah pesan dari Jongin di sana. Lantas, ia segera membuka pesan itu.

‘Sudah sampai di rumah, belum?’

Krystal membalas pesan itu.

“Sudah, kkamjong.”

‘Yaak! Jangan memanggilku seperti itu! Lama-lama kau mirip dengan Jongdae, ya? Menyebalkan.’

“Haha… kalau begitu pertemukan aku dengan adikmu yang tampan itu. Jongin~ aku masih mual…”

‘Huh? Tidak akan! Masih mual? Sudah minum obat anti mual?’

“Belum, Jongin. Aku tidak punya.”

‘Kalau wedang Jahe?’

‘Wedang Jahe? Ah, sepertinya di dapur ada Jahe,’ batin Krystal.
Langsung saja, Krystal menyuruh ibunya untuk membuatkannya, karena ia tidak bisa membuatnya. Setelah beberapa menit kemudian, ibunya memasuki kamarnya dengan membawa wedang itu. Krystal langsung meminumnya hingga habis. Dan benar saja, rasa mualnya mulai menghilang secara perlahan.
Senyum senang terlihat di wajahnya. Akhirnya, ia bisa tidur nyenyak malam ini.

“Jongiiiinn… Yeay! Mualku sudah mulai menghilang. Terimakasih, ya! Tadi aku sudah minum Wedang Jahe-nya. Benar-benar manjur!”

‘Oh, syukurlah kalau begitu. Dulu pas aku mual juga minum itu.’

“Eum. Jongin, sudah dulu, ya. Aku mau tidur. Ngantuk!”

‘Okay. Selamat malam.’

Krystal tidak membalas lagi pesan terakhir Jongin. Ia langsung merebahkan tubuhnya di kasur empuknya, kemudian memejamkan matanya.

‘Selamat malam, Sehun, Oh Sehun, Sehun-ku sayang hehe…, terimakasih untuk hari ini, Sehunnie~’

.
.
.
.

~School~

Hari ini sudah memasuki ajaran tahun baru. Semua siswa belum diliburkan setelah pembagian raport, karena libur kenaikan kelasnya diundur jadi mulai hari senin yang akan datang.
Kelas 3-B, semua siswa di kelas itu keluar dari kelasnya, menuju ke ruang kesehatan yang ada di lantai satu. Praktik Matematika. Memang sih, kalau praktik pelajaran Matematika ‘secara langsung’ itu jarang. Mengumpulkan data berat badan dan tinggi siswa, yang akan menjadi sasarannya. Tahun ajaran baru, begitu pun dengan materinya. Kali ini, pelajaran Matematika diawali dengan materi Statistika.
Krystal menoleh ke belakang. Ternyata Sehun berjalan cukup dekat juga di belakangnya. Ia hanya tersenyum, kemudian menuruni anak tangga itu.
Setelah sampai di ruangan itu, mereka segera mengukur tinggi badan mereka satu per satu.
Krystal dan beberapa teman yang lainnya hanya menunggu di luar saja untuk menuggu giliran.

“Sudah sehat, Kryst?” tanya Sehun di sebrangnya.

“S-sudah,” jawabnya, sambil tersenyum senang. Krystal segera berpaling ke arah Amber yang tengah tersenyum jahil padanya. Well, ia sungguh malu jika terus bertatapan dengan Sehun.
Tiga puluh menit berlalu.
Praktik sudah selesai. Krystal kembali ke kelasnya bersama Amber. Saat sudah menuju kelasnya, Sehun malah berdiri di ambang pintu. Dan itu membuat Krystal gugup saja. Sial!

“Matamu belum sembuh, Hun?” tanya Amber saat melewati Sehun.
Sudah dua hari ini Sehun memang terserang penyakit mata. Sebelah matanya sedikit memerah. Dan penyakit itu menular. Awalnya, seorang gadis yang tempat duduk di depannya terkena penyakit itu, kemudian teman sebangkunya juga kena, dan pada akhirnya, Sehun yang duduk di belakangnya juga kena. Tapi tidak semua yang berdekatan dengan penderita itu juga terserang. Mungkin hanya yang sedang beruntung atau tidak yang menentukan. Ada yang bilang, jika menatap matanya juga kena, tapi Krystal tidak mempedulikan itu. Malah Krystal semakin ingin untuk terus menatap Sehun, khususnya pada matanya. Hei, jika menatap seseorang yang disukai tanpa menatap matanya itu, tidak menyenangkan! Serasa ada sesuatu yang mengganjal.

“Pakai obat…,” Krystal lagi-lagi tidak melanjutkan perkataannya.
Ya, saat Krystal melewati pemuda itu, Krystal memang tengah memberikan saran tentang obat itu, tanpa menatap ke arah Sehun, tapi pas Krystal menoleh ke arah Sehun, ternyata pemuda itu sedang menatap ke arah lain. Dan itu membuat Krystal sangat malu, karena Sehun tidak menatapnya, tapi mendegar suaranya, karena Krystal berbicara cukup keras. Terlebih lagi, Amber malah menggodanya.

“Cieee… yang perhatian. Pakai obat apa, tadi? Hem?”

.
.
.
.

Setelah melewati ‘sesuatu’ yang memusingkan dan menghabiskan banyak waktu, akhirnya sudah memasuki jam pelajaran terakhir. Dan semua siswa di kelas 3-B semakin bersorak saja, saat pelajaran di jam itu kosong. Pelajaran Bahasa Inggris dan hanya diberi tugas saja.

“Ketua kelasnya siapa?” tanya seorang guru yang memberi tugas itu.
Sehun mengangkat tangan kanannya, kemudian mendekati guru itu.
Guru wanita itu menyerahkan beberapa tumpukan amplop, yang di dalamnya berisi surat pemberitahuan tentang Daftar Ulang.
Sehun segera memberikannya satu-satu pada teman sekelasnya.

“Krystal Jung…,” panggil Sehun.

Krystal menghentikan mengerjakan tugasnya, kemudian mendekati Sehun untuk mengambil amplopnya.

“Sini…,” kata Krystal sambil mengulurkan tangannya.

Sehun memberikannya, tapi sebelum benar-benar menyentuh telapak tangan Krystal, Sehun segera menariknya kembali.

“Ya!” protes Krystal, tapi ia juga salah tingkah, selain itu juga senang.

‘Untuk pertama kalinya, Sehun mengajakku bercanda hingga seperti ini, dan aku bahagia karena itu.’

Sehun hanya terkekeh menanggapinya, kemudian menyerahkan amplop itu. Kali ini pemuda itu serius.

.
.
.
.

“Jongin! Kyungsoo!” teriak Krystal dari arah belakang.
Kedua pemuda itu menoleh ke arah Krystal. Dan Krystal segera menyusul mereka.
Mereka berjalan menuju area parkiran sambil berbincang-bincang, dengan posisi ;
Krystal-Jongin-Kyungsoo.

Tapi entah kenapa saat hampir sampai di parkiran, Jongin dan Kyungsoo bertukar tempat. Meski begitu, Krystal dan Kyungsoo masih asyik mengobrol, mengabaikan Jongin.

‘Salah siapa pindah?’ Pikir Krystal.
Namun, tiba-tiba Kyungsoo mengatakan, “Kryst, kau tahu tidak? Kalau Jongin sayang padamu?”
.

Ambigu.

.

Hanya satu kata, ambigu.

Maksud perkataan Kyungsoo apa? Bukankah ia adalah temannya Jongin? Tentu saja pemuda itu menyanginya. Pikirnya.
Meskipun pikirannya bertanya-tanya dan ia juga sempat berfikir ke arah ‘sana’, Krystal tetap berfikir seperti semula. Sayang seorang teman. Namun ternyata,

“Sudahlah, Kryst. Aku tahu kau juga pasti mau.”

Apa ini?

Jadi tebakkannya… benar? rasa sayang yang dimaksud Kyungsoo adalah yang ‘itu’?

Tapi Kyungsoo mengatakan itu sambil tertawa. Ugh… syukurlah.

Tapi, lihat reaksi pemuda itu, Kim Jongin.

“Kryst, lihat! Jongin salah tingkah!”

.

Apa? Apa-apaan ini!

.

.

.

.

To Be Continued

 

LANJUT ATAU TIDAK?

Advertisements

tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s