Namitsutiti

The First Time Say Love [Chapter 1]

18 Comments


 

High School Love On-horz

Tittle » The First Time Say Love

Author » Namitsu Titi

Rate » PG-13

Genre » Friendship, School-life, Slice Of Life.

Cast » Park Jiyeon [T-ARA], Nam Wohyun [INFINITE], Im Yoona [SNSD], Choi Siwon [Super Junior]

Summary » ‘Aishhh… kenapa aku seperti ini?! Oh astaga, ada apa dengan jantungku? Kenapa berdegup samar dua kali?’

Disclaimer » Semua cast milik orang tuanya masing-masing dan Tuhan YME. Popularitas Cast milik agency dan diri nya masing-masing. Tapi, alur cerita milik saya.

A/n : FF ini adalah FF remake chapter 1-3 di FF milik saya sendiri, dengan judul The First [Park Chanyeol-Yoo Ara Fanfiction].

.

© 2014 Namitsu Titi

.

.

.

~Happy Reading~

.

.

.

.

Terlihat seorang pemuda dan seorang gadis sedang berdiri di depan sebuah pintu dengan papan nama Class 1-C. Sepertinya kedua orang itu tengah membicarakan sesuatu.

“Yang akan berbicara, aku atau dirimu?” pemuda itu bertanya pada seorang gadis di hadapannya.

“Kau saja. Kau kan laki-laki,” jawab gadis itu seperti meremehkan.

“Huh, dasar kau ini. Gender dipakai alasan!” protesnya, sambil merapikan penampilannya.

“Biarin!” gadis itu kembali menatap pintu di hadapannya. Tangan kanannya terangkat, kemudian mengetuk pintu itu.
Ia membuka pintu di hadapannya, setelah mengetuknya tiga kali.

 

Semua penghuni kelas itu terdiam dan mengamati gerak-gerik kedua orang itu, yang belum mereka kenali, kecuali seorang wanita berumur yang berdiri di samping papan tulis.

“Maaf, songsaenim, menganggu kelas anda. Bolehkah kami meminta waktunya sebentar?” izin pemuda itu dengan sopan, setelah ia dan temannya membungkuk hormat.

Ne. Silakan,” jawab wanita berumur itu sembari tersenyum.

“Selamat pagi,” sapa pemuda itu, setelah menghadapkan tubuhnya ke siswa-siswi yang mengisi semua kursi yang ada di hadapannya itu.

“Selamat pagi~” jawab mereka serempak.

“Perkenalkan, nama saya Choi Siwon, sunbae kalian dari kelas 2-A.” Pemuda itu membungkukkan tubuhnya sebagai tanda perkenalan.

“Perkenalkan, saya Lee Sunkyu, sunbae kalian dari kelas 2-B.” gadis itu juga melakukan hal yang sama seperti temannya.

 

Sebelum membuka suaranya lagi, Siwon memberikan senyuman terbaiknya, dan itu sukses membuat seluruh siswi yang ada di kelas itu nge-fly. “Kami dari anggota OSIS, meminta partisipasi kalian dalam kegiatan ekstrakulikuler yang diadakan oleh pihak OSIS. Kami akan membagikan formulir pendaftarannya. Mohon partisipasinya.” Diakhiri dengan senyum menawannya, dan lagi-lagi membuat seluruh siswi di kelas itu nge-fly.

Sunkyu dan Siwon mulai membagikan formulirnya. Setelah semua adik kelasnya mendapatkan formulir itu, keduanya kembali ke depan kelas dan mengobrol ringan dengan guru wanita itu, selagi menunggu adik kelasnya selesai mengisi formulirnya.

 

Sebuah meja yang ditempati oleh dua orang gadis, barisan paling belakang dekat tembok, terlihat bahwa salah satu gadis dari keduanya, yang ber-name tag Park Jiyeon, sepertinya tengah fokus memperhatikan daftar-daftar ekstrakulikuler yang tertulis di lembar formulir itu.

Jiyeon menggaruk-garuk kepalanya. Ia bingung harus ikut apa. “Yoona, kau mau ikut apa saja?” tanyanya, masih menatap tulisan-tulisan yang tertera di kertas itu. Jiyeon mengerutkan keningnya karena tidak ada jawaban dari sahabat sekaligus teman sebangkunya. “Yoona?” tanyanya sekali lagi, karena Yoona tidak menyahut.
Jiyeon menoleh ke arah Yoona. “Yaak!” teriaknya pelan, sambil menyenggol bahu Yoona.

“A-apa?” jawab Yoona sedikit gelapan.

“Huffthh… kau pilih ekstrakulikuler apa?”

Yoona menatap pilihannya yang sudah di ceklist di lembaran itu. “Aku ikut IT Software dan Karya Ilmiah Remaja. Bagaimana denganmu?”

Jiyeon berfikir sejenak. “Eum… aku bingung. Sama sajalah sepertimu hehe…,” jawabnya, kemudian menyengir.

“Huh, dasar ikut-ikutan!” cibir Yoona.

Jiyeon baru akan membuka suaranya, tapi Sunkyu keburu membuka suaranya.

“Apakah sudah selesai mengisinya?” tanya Sunkyu pada adik kelasnya.

Ne~” jawab mereka bersamaan.

“Kalau begitu, kami akan mengambil formulirnya,” kali ini Siwon yang bersuara.

Ne~”

 

Sunkyu dan Siwon mengambil formlir-formulir itu. Setelahnya, mereka mengundurkan diri untuk pamit pada penghuni kelas itu. Dan sepeninggal mereka, bel pelajaran ketiga berbunyi.

“Baiklah, materi kali ini saya cukupkan sampai disini,” ujar guru itu.

Ne~” sahut penghuni kelas itu semangat.

Setelah membereskan perlengkapan mengajar, wanita itu meninggalkan kelas 1-C.

 

“Huahhh… akhirnyaaa… selesai juga!” Jiyeon mendesah lega, kemudian menyandarkan punggungnya ke kursi.

“Heh, jangan senang dulu. Memangnya PR Lee Songsaenim sudah selesai?” tanya Yoona, memandang malas sahabatnya itu.

“E-eh? Aku belum! Mana PR-mu? Sini aku lihat!” paniknya. Segera saja ia mengambil buku PR yang dimaksud.

“Kau ini kebiasaan. Nih!” gerutu Yoona sambil memberikan buku PR-nya.
Tanpa membuang banyak waktu, Jiyeon segera menyalin PR Yoona.

“Jiyeon, aku keluar kelas dulu, ya. Disini membosankan!”

“Iya. Sudah sana pergi!”

.

.
Disaat sedang asyik-asyiknya mengerjakan PR, tiba-tiba saja ada yang mengganggunya.
Jiyeon menyipitkan mata kanannya karena silau. Ada yang memainkan kaca bedak dan menghadapkannya pada Jiyeon. Dari kaca itu memantulkan cahaya matahari dan itu membuatnya risih dikarenakan silaunya.

Dengan kesal, ia menoleh ke meja paling belakang, pojok kiri, karena pantulan cahaya itu berasal darisana. Namun, setelah melihat siapa pelakunya, yang tadinya aura kesal berubah menjadi aura malu-malu.
Ternyata pelakunya adalah seorang pemuda yang selalu memperkenalkan dirinya dengan nama Mr.X.

Pemuda itu menatap jahil pada Jiyeon, dan bukannya menghentikan aksi bodohnya, si Mr.X malah terus menggodanya dengan kaca itu. Dan Jiyeon langsung mengalihkan pandangannya dari pemuda itu, lalu mengerjakan PR-nya lagi.
Sebenarnya Jiyeon berpaling bukan karena kejahilan Mr.X, tapi karena orangnya. Ia semakin malu saat pemuda itu menatapnya sambil terus tersenyum.

.

.

.

.

~After School~

Jiyeon mendekati Yoona yang sedang nongkrong diluar kelasnya sembari senyum-senyum sendiri. Tapi sepertinya Jiyeon menghiraukan tingkah aneh sahabatnya itu.

“Yoona, kenapa masih ada disini? Ayo pulang,” ajaknya. Jiyeon menyelesaikan piketnya lebih dulu, jadi ia pulang sedikit terlambat. Dan wajar saja Jiyeon menanyakan itu pada Yoona, karena biasanya gadis itu selalu pulang tepat waktu.

E-eoh? Jangan pulang dulu. Kita ada les. Justru itu aku masih disini,” jawabnya, setelah mendengar suara Jiyeon yang sudah menyadarkannya dari fantasy-nya.

“Hah? les apa?”

“Aduh~ Jiyeon sayang, apa kau tak tahu, kalau hari ini kita Les IT Software. Makannya, tadi dilihat dulu saat kau memilih ekstrakulikuler itu.”

IT Software? Jadi les itu, sekarang?-” Yoona mengangguk “-Eh, aku kan hanya ikut-ikutan saja sepertimu. Ngomong-ngomong siapa pembimbingnya?”

“Shin Songsaenim. Ayo kita ke halaman saja menunggu Shin Songsaenim-nya, karena aku juga belum tahu di ruangan mana les-nya.”
Jiyeon hanya mengangguk-ngangguk mengerti.

 

Keduanya berjalan menuju halaman, setelah menuruni tangga dari lantai tiga -kelas mereka berada.
Jiyeon menyarankan untuk menunggu pembimbing mereka di depan Lab.Animasi yang berada di dekat tangga, dan Yoona menyetujuinya.

Sudah sepuluh menit mereka menunggu disana, tapi orang yang mereka tunggu belum muncul, dan  itu membuat mereka bosan, khususnya Jiyeon, gadis itu sudah merasa haus.

“Yoona~ ayo ke kantin dulu. Aku kehausan,” Jiyeon merengek-rengek seperti anak kecil pada Yoona, karena ia takut, Yoona tidak mau menemaninya.

“He? Memangnya kantin masih buka? Ini kan sudah jam pulang sekolah.”

“Aaah… kita kesana saja dulu. Lagipula Shin Songsaenim juga bakal lama tidak muncul-muncul.”

“Baiklah… baiklah…,”

Jiyeon dan Yoona berjalan menuju kantin yang berada di depan mereka, gedung bagian timur -dimana hampir semua fasilitas sekolah berada.

Tapi, saat keduanya berada di anak tangga kedua, tiba-tiba saja Jonghan -teman sekelas keduanya- berteriak memanggil Jiyeon. Sedangkan Jonghan sendiri berada di depan ruang aula yang letaknya tak jauh dari tangga yang sedang kedua gadis itu naiki, dan Jonghan tidak sendiri, ia bersama seorang pemuda yang masih asing bagi Jiyeon maupun Yoona.

“Jiyeon, les nya jadi atau tidak?” teriak Jonghan. Sepertinya pemuda itu juga sudah menunggu lama disana. Dan ia ragu, les nya jadi

hari ini atau tidak, karena ia juga belum bertemu dengan Guru Shin.
“Aku juga tidak tahu, Jong!” sahut Jiyeon dengan suara yang bisa dibilang cukup keras.
“Oh…,” Jonghan mengangguk, kemudian mengobrol lagi dengan pemuda disampingnya.
.
.
.
.
~Canteen~
Kedua gadis itu sampai di kantin. Untungnya, kantin masih buka. Langsung saja, Jiyeon memesan minumannya, jus jeruk. Yoona juga memesan. Rupanya Yoona juga tergiur.Saat menunggu pesanan Yoona, tiba-tiba saja seorang gadis yang merupakan teman sekelas sekaligus mengikuti les yang sama, memanggil kedua sahabat itu, “Jiyeon, Yoona, les nya akan dimulai! Ruangannya di Lab.Komputer pertama. Aku duluan, ya!” teriaknya, kemudian berjalan lebih dulu bersama teman-temannya.

“Iya! Iya!” sahut Jiyeon, kemudian menyeruput jus nya lagi, karena ia sudah tidak tahan.

.

.

.

.

Jiyeon dan Yoona berjalan cepat ke lantai empat, dimana ruangan itu berada. Sesekali mereka menyeruput jus nya, karena tadi keduanya memesan di wadah khusus.

Setelah menghabiskan banyaknya jarak yang ditempuh, akhirnya Jiyeon dan Yoona tiba juga di ruangan itu, yang berada dilantai empat.
Ternyata guru pembimbing dan anggota yang lain juga baru sampai.

Guru Shin terlihat sedang memeriksa keadaan setempat. Setelah melihat ada sedikit debu yang menempel di lantai, ia menghela nafas, kemudian, “Sebelum kita mulai, silakan bersihkan ruangan ini terlebih dahulu. Lihat… banyak debu, kan?” Guru Shin menunjuk-nunjuk dimana saja debu yang berserakan.

Serempak, semua anggota menoleh ke arah yang dituju Guru Shin, lalu secara bersamaan juga, mereka menghela nafas, saat melihat hanya ada sedikit bahkan terlihat samar debu itu. ‘Benar-benar pecinta kebersihan!’ gerutu mereka dalam hati.
.
.
Setelah ruangan bersih, Guru Shin mengambil sebuah CPU -yang masih terhubung ke listrik, kemudian memperlihatkannya pada siswanya.

“Sudah pernah melihat isi CPU?”

“Belum, songsaenim~”

“Karena ini masih pertama, kita tidak akan membahas IT dulu, tapi kita akan belajar setruman. Tapi jangan khawatir, karena ini aliran listriknya kecil.” Guru Shin segera membongkar CPU itu, dan menjelaskan bagian-bagiannya. Beliau menargetkan hardisk sebagai bahan uji coba. Semua siswa disuruh mencobanya satu persatu, dengan menyentuh permukaan hardisk itu. Meskipun takut, tapi akhirnya melakukan juga. Hanya menyentuh sedikit dengan telunjuk, dan saat merasakan aliran listriknya, mereka segera menjauhkan jarinya.

Tapi, hanya satu orang yang berbeda dengan yang lainnya. Bahkan, beberapa dari mereka sempat melongo tak percaya dengan apa yang dilakukan pemuda itu. Dia tidak hanya menyentuh menggunakan telunjuk, tapi dengan telapak tangannya dan itu cukup lama. Dan ternyata, orang itu adalah pemuda yang bersama Jonghan tadi.

Woahhh! Dia berani sekali! Daebak!’ puji Jiyeon dalam hati tentunya.
Jiyeon menatap lekat pemuda itu, ‘Emmm… sepertinya dia sunbae hehe…,’

.

.

.

.

Hari ini adalah hari yang membosankan bagi Jiyeon. Hari rutin upacara bendera! Kaki Jiyeon sudah pegal, rasanya ia ingin sekali duduk sekarang.

Akhirnya, setelah empat puluh menit berlalu, upacara selesai dilaksanakan, tapi sebelum kembali ke kelas masing-masing, Waka Kesiswaan menyuruh peserta upacara, tidak boleh masuk ke kelas terlebih dahulu, karena ada sesuatu yang akan diumumkan oleh kepala sekolah. Pemenang olimpiade, itu yang akan diumumkan oleh beliau.

“Kepada saudara Kris Wu, dari kelas 1-B, segera maju ke depan-”

‘Kyaaa! Kris dapat juara, yeay!’ batin Jiyeon berteriak senang. Ia terus menatap Kris, saat pemuda berambut pirang itu sudah berdiri di dekat kepala sekolah, bahkan ia sampai lupa untuk memperhatikan sekeliling, karena saking asyiknya memandangi Kris.

“-selanjutnya, saudara Nam Wohyun, dari kelas 1-B, bla…bla… bla…”

Dan ucapan lanjutan kepala sekolah tidak didengar lagi, karena Jiyeon sudah terperangkap oleh seorang pemuda yang bernama Kris Wu.

 

Jiyeon melihat Kris tengah bersalaman dengan pemuda dihadapannya, dan masih berdiri di dekat kepala sekolah.

Saat itu juga, Jiyeon mengernyit bingung dengan seorang pemuda yang sedang bersalaman dengan Kris.

‘Bukankan… dia yang pemberani itu?’ pikirnya, kemudian menyenggol bahu Yoona.

“Eh, Yoona, lihatlah yang sedang berdiri di samping Kris. Bukankah, dia yang pemberani itu? Di IT Software?”

Yoona menatap lekat pemuda yang bernama Nam Wohyun itu, kemudian menggaruk-garuk pelipisnya. Ia tidak ingat sama sekali.

“E-em, aku tidak tahu,” jawabnya.

“Ah, dasar gadis pelupa!” gerutu Jiyeon pelan.

.

.

.

.

Jika seminggu yang lalu adalah Les IT Software, maka sekarang Les KIR (Karya Ilmiyah Remaja). Sepertinya les tersebut telah dimulai, terbukti bahwa Guru Lee –pembimbing les itu- sedang membacakan anggota kelompok untuk anak didiknya. Saat Guru Lee sedang membacakan anggota lain, Jiyeon nampak sedang melihat sekeliling, dan… ia melihat Kris sedang tertawa bersama pemuda disampingnya.

Jiyeon tersenyum senang, ‘Kris juga ikut? Beruntungnya hehe..,’ 

 

Jiyeon langsung menatap Guru Lee, saat namanya disebut.

“Park Jiyeon, Kim Suho, dan Nam Wohyun. Anggota dari kelompok ketiga.”

Jiyeon ber’yes-ria’ saat dirinya sekelompok dengan Suho, karena pemuda itu adalah teman sekelasnya.

“Kelompok keempat; Kris Wu, Eunjung, bla… bla… bla…,”

‘Yahhh, Eunjung beruntung sekali sekelompok dengan Kris,’ Jiyeon membatin lemas.

 

Jiyeon menoleh ke arah Suho, tepatnya ke arah seorang pemuda yang duduk persis di belakang Suho.

Pemuda itu menyebut-nyebut namanya pada teman sekelasnya. “Eh, yang namanya Jiyeon, mana?” bisik pemuda itu pada Suho, tapi suaranya masih bisa di dengar oleh Jiyeon.

Menyadari Suho akan menunjuk dirinya, Jiyeon segera berpaling dari kedua pemuda itu, kemudian mengingat-ingat lagi, siapa pemuda itu. ‘Dia… dia, si pemberani di IT dan yang telah bersalaman dengan Kris? Jadi dia sekelompok dengan… ku? N-Nam Wohyun? Kita beretemu lagi di les yang sama, ya? Tapi dia beneran sunbae atau… ahhh sudahlah, tidak ada untungnya juga aku mengetahui siapa dia’

.

.

“Hei, Suho, kapan kita mendiskusikan perlengkapan untuk KIR-nya?” tanya Jiyeon, saat Suho melewati meja yang ditempatinya.

“Ah, tidak usah terburu-buru. Santai saja,” jawab Suho.

Wohyun yang berada tidak jauh di belakang Suho, mengampiri Jiyeon dan Suho, berniat untuk ikut terlibat dalam pembicaraan, mungkin? Tapi berhubung Jiyeon dan Suho sudah selesai pembicaraannya, Wohyun langsung berjalan keluar dari ruang les itu.

Jiyeon yang menyadari maksud tersirat dari Wohyun tadi, hanya menatap punggung Wohyun sejenak, saat pemuda itu akan melewati ambang pintu. Setelahnya, ia juga ikut keluar untuk pulang, karena Les KIR telah selesai tujuh menit yang lalu.

.

.

.

.

~Two Days Later~

Dengan malas Jiyeon berjalan menaiki anak tangga yang menghubungkan ke area kantin dan fasilitas lainnya. Ia ke kantin sendirian, karena Yoona mengatakan bahwa ia ada keperluan di perpustakaan.

Setelah sampai di lantai kedua, tak disangka, ia bertemu Wohyun disana.

“Mau kemana?” tanya Wohyun sembari tersenyum ramah.

“K-ke kantin,” jawab Jiyeon dengan suara yang tidak seperti biasanya, dengan tangan kanan yang memegang leher bagian belakangnya, dan terkesan salah tingkah?

‘Aishhh… kenapa aku seperti ini?! Oh astaga, ada apa dengan jantungku? Kenapa berdegup samar dua kali?’ gerutu Jiyeon dalam hati.

Jujur saja, ini adalah pertama kalinya bagi Jiyeon ditanya dengan senyum ramah yang begitu menghanyutkan oleh seorang pemuda yang baru dikenalnya. Apa mungkin hal samar itu, karena pemuda yang baru dikenalnya menyapanya? Yah mungkin saja jika ia sudah mengenal pemuda itu, ia tidak akan merasakan hal itu, kan?

.

.

.

.

To Be Continued

 

Hyaaa…. (?) FF yang ini gimana? Hehe.. Ini pertama kalinya aku bikin FF berchapter dengan main cast Jiyeon-eonni, ya… 🙂

 

Jadi, kalo aku minta tanggapan dari kalian boleh?

Kalo kalian bngung mau ngasih komentar apa, aku menerima isi komentar hanya dengan tulisan

“Lanjut… Thor!”

 

Nah, isi komentar seperti itu juga tidak apa-apa, yang penting kalian meninggalkan komentarnya.

kenapa aku minta komentar kalian? Itu biar aku semangat lanjutnya.

 

Cukup simple kok,
-tinggal isi nama kalian,
-dibagian email dan web tidak perlu diisi
-isi komntar, minimal : Lanjut… Thor!

 

kalo ada yang ingin memberikan kritik dan sarnnya, silakan. Aku terima dengan senang hati.

 

LANJUT ATAU TIDAK?

Advertisements

18 thoughts on “The First Time Say Love [Chapter 1]

  1. cowok yg mainin kaca itu ternyata bukan woohun ya? aku kira dia woohyun 😀 hehe
    lah jadi siapa dong mr.x itu?
    si pemberani lah pengen ngakak =)) wkwk

    Like

  2. Mr.X nugu?? Kriss kh?

    Next thor ..

    Like

  3. Woohyaaan *3* kereen

    Like

  4. Waw ada ff woohyun jiyeon x3

    Like

  5. Daebakk! Mr. X itu siapa? Woohyun?

    Like

tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s