Namitsutiti

Because Of Anime [Chapter 2]

Leave a comment


becauseofanime-namitsu

[Credit : poster by Doremigirl ]

Tittle » Because Of Anime

Author » Namitsu Titi

Rate » PG-13

Genre » Friendship, School-life, little sad.

Cast » Krystal Jung F(X), Kim Jongin [EXO], Oh Sehun [EXO]

Disclaimer » Semua cast milik orang tuanya masing-masing dan Tuhan YME. Popularitas Cast milik agency dan diri nya masing-masing. tapi, alur cerita milik saya.

.

© 2014 Namitsu Titi

.

.

.

~Happy Reading~

“Iya. Kau bilang tadi saat istirahat akan ikut, tapi waktu kumpul kau bilang tidak ikut?!” Mata Krystal agak berair. Ia benar-benar kecewa pada Jongin. Krystal sudah bahagia Jongin akan ikut. Ia ingin liburan bareng dengan Jongin, berfoto bersama disana. Tapi sekarang apa? Jongin bilang tak ingin ikut?

.

.

.

.

Krystal langsung berjalan meninggalkan Jongin.
Pemuda itu menghela nafas beratnya, kemudian menyusul Krystal.

“Krystal… dengarkan aku. Seandainya Lee Ji -bendahara kelas- tidak korupsi, aku yakin KAS kita sudah mencapai satu juta atau bahkan lebih dan kita semua bisa ikut liburan tanpa harus iuran lagi. Apa kau tidak tahu kalau KAS kita kehilangan enam ratus ribu?”

Krystal menggelengkan kepalanya, “Itu… hilang sungguhan atau… ehmm… tapi sepertinya uang yang hilang itu digunakan untuk kebutuhannya sendiri,” jawabnya, masih dengan suasana lesu karena Jongin tidak jadi ikut.

Tadi, saat membicarakan tentang liburan itu, memang inilah yang menjadi pokok permasalahan. Mereka kekurangan dana untuk membayar sewa bus nya. Karena itu, mereka harus mengeluarkan uang lagi. Tapi tidak untuk Jongin, Baekhyun, Lay, Sulli, dan Naeun, karena mereka tidak memiliki uang untuk menambah kekurangan itu.

Itulah yang menyebabkan Jongin tidak jadi ikut.
Tapi mengapa saat ditanya pada jam istirahat, Jongin berbohong? Mengapa tidak jujur saja?

Setidaknya, kau tidak akan membuatnya kecewa dan sedih, Kim Jongin!

Krystal menoleh ke belakang. Ternyata disana ada Sehun dan sahabatnya yang kebetulan menatapnya sambil mengobrol yang entah apa. Ia kembali menoleh ke depan.

Disisi lain, Krystal merasa senang karena Sehun melihatnya sedang berjalan dengan seorang lelaki disampingnya, namun ia juga merasa aneh. Ini… ia tidak mengerti apa maksudnya. Ia agak malu saat ada orang lain melihatnya sedang berjalan dengan Jongin.

Terlebih lagi, Jongin semakin mendekat kearahnya, sehingga bahu kanan Jongin hampir menempel dengan bahu kiri Krystal. Dan itu membuat Krystal harus sedikit menghindar agar jarak keduanya tidak menghilang.

“Baiklah. Aku pulang duluan. Bersenang-senanglah disana,” ucap Jongin saat keduanya telah sampai di area parkiran.

Parkiran dan gedung sekolah tidak berada dalam satu area. Dari parkiran ke gedung itu membutuhkan kurang lebih lima menit dengan berjalan kaki.

Krystal tidak menjawabnya. Ia hanya mengangguk dengan sorot mata yang menatap Jongin sedih.
Ia begitu menyayangi Jongin dan sudah menganggap Jongin sebagai adiknya yang menggemaskan, meski sebenarnya umur Jongin lebih tua setahun darinya.

Dibalik wajah datarnya, Krystal tahu bahwa Jongin juga bersedih. Ia tahu Jongin juga ingin ikut liburan bersama teman sekelasnya, tapi Krystal tidak bisa berbuat apa-apa. Seandainya saja Krystal memiliki uang lebih, pasti ia akan membayari Jongin. Tapi uangnya masih belum cukup.
.
.
.
.
Krystal tersenyum senang saat melihat Jongin tengah bercandaan dengan teman-temannya. Ia merindukan pemuda itu.
Semenjak keduanya berada di kelas yang berbeda, mereka jarang sekali bertemu, meski kelas mereka bersebelahan.
Hari ini, hari yang sangat mendebarkan untuk seluruh siswa di sekolah ini. Penerimaan raport siswa.
Kali ini, ia datang bersama ayahnya.

Appa, ini kelasnya. Masuklah,” ucap Krystal, saat ia dan ayah-nya sudah berada di depan kelas 2-C.

Ayah-nya mengangguk, kemudian memasuki ruang kelas itu.

Krystal mengela nafas. Ia berjalan mendekati tembok pembatas.
Gadis itu memandang ke bawah, ke halaman sekolah. Banyak sekali para orangtua yang masih berada di halaman, belum memasuki kelas anaknya.

Memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang itu… menyenangkan. Pikirnya.

‘Hari ini, aku pasrah. Kali ini, aku tidak begitu mengharapkan untuk masuk peringkat lima besar, mengingat belakangan ini, aku malas belajar dan tidak maksimal dalam belajar untuk test kemarin. Tapi, seandainya aku tidak masuk dalam jajaran itu, aku berharap… Sehun menggantikan posisiku. Itu… sudah membuatku bahagia.’

Krystal menghela nafas (lagi). Meskipun ia tidak berharap lebih untuk peringkatnya, tapi hari ini cukup membuatnya berdebar.
Krystal mengalihkan pandangannya ke arah kanan. Ia melihat Jongin tengah mengobrol asyik dengan teman-temannya. Pembicaraan dengan topik game. Tebaknya, karena ia mendengar samar pembicaraan mereka.
Game… menjadi pembicaraan? Seperti film saja. Pikirnya.

Krystal melangkahkan kakinya dengan perasaan rindu.

Satu langkah…

Dua langkah…

Dan… berhenti di langkah kedua. Ia bingung.
Gadis itu ingin mendekati Jongin, kemudian mengajaknya mengobrol, tapi saat melihat teman-teman Jongin masih berada di dekat pemuda itu, ia ragu.
Mendekati Jongin saat ada teman-temannya di sekitar pemuda itu, ia merasa… sedikit malu.

“Kyungsoo… yang datang siapa?” tanya Krystal. ia telah memutuskan untuk mendekati Kyungsoo, sahabat Jongin. Ia tidak berani jka harus mendekati Jongin sekarang. Lagipula, jaraknya dengan Jongin hanya terhalang dua temannya setelah Kyungsoo. Jadi, cukup dekat, bukan?

Eomma-ku. Tapi belum datang, masih di jalan.”

Krystal mengangguk mengerti. “Eh, Kyung. Apa itu eomma-mu ?” tanya nya, setelah menepuk bahu kiri Kyungsoo. Krystal bisa menebaknya, karena raut wajah wanita itu sedikit mirip dengan Kyungsoo.

Kyungsoo menoleh ke arah wanita itu, yang menjadi pusat perhatian Krystal.
Kyungsoo langsung tersenyum gembira. Akhirnya, ibu pemuda itu tiba juga. “Ne ! Aku kesana dulu, ya,” pamit Kyungsoo.

Krystal mengangguk sembari tersenyum.

Kyungsoo berjalan menghampiri ibu-nya. “Eomma, ini kelasku. Wali kelas sudah berada di dalam. Masukklah.”

“Baiklah, eomma masuk dulu, ya.”

Ne.” Kyungsoo mengangguk.

“Tunggu, eomma…” ucap Kyungsoo, saat ibu-nya akan membuka pintu kelas itu. Wanita itu menoleh ke arah anaknya. “… tolong ambilkan raport Jongin juga,” sambungnya.

“Oh, ne.”

Ayah ataupun ibu Jongin tidak datang ke sekolah untuk mengambil raport anaknya. Ini bukan yang pertama kalinya, bahkan semester sebelumnya, Jongin juga meminta bantuan pada Ibunya Kyungsoo untuk mengambil raport-nya.

Kim Jongin, anak pertama dari satu bersaudara. Ia memiliki seorang adik laki-laki yang masih kelas satu Junior High School. Adiknya yang bernama Kim Jongdae memiliki sifat yang berbanding terbalik dengan kakaknya.

Narsis, cerewet, dan sok tampan. Itulah yang dikatakan Jongin pada Krystal tentang adiknya, saat Krystal bertanya seperti apa adiknya itu.
Terkadang, Jongin serasa ingin mual saat melihat tingkah adiknya yang tidak ada bagusnya sama sekali di mata Jongin.

Jongin pernah memergoki adiknya tengah bermain hujan-hujanan di halaman rumahnya sambil berbicara sendiri. Ada lagi, Jongin pernah melihat adiknya tengah berkaca di depan cermin dengan gaya cool menurut adiknya, kemudian mengatakan, “Hmmm… tampan !” dan itu langsung membuat Jongin mengernyit jijik. Sedangkan Krystal, gadis itu malah tertawa keras saat mendengar tingkah Jongdae dari Jongin.
Krystal mengatakan bahwa ia penasaran dengan Jongdae dan ingin bertemu dengan adiknya, tapi Jongin melarangnya. Jongin takut jika Krystal terbawa seperti adiknya, mengingat jika Jongin bertemu Krystal saja, tingkah gadis itu seperti anak kecil.

Orangtua Jongin, ibu dan ayah-nya bekerja di Jepang. Orangtua-nya mengelola restoran kecil peninggalan ibunya ayah Jongin yang telah tiada.
Mereka hanya pulang lima kali dalam setahun. Sedangkan Jongin tinggal bersama adik dan neneknya di Korea.

“Jongin~” panggil Krystal, saat Jongin berjongkok disebrangnya.

“Apa?” jawabnya sambil mendongak menatap Krystal.

“Hm… tidak ada.” Krystal kembali menatap ke halaman.

Lima belas menit berlalu. Pembagian raport sudah dimulai sejak empat menit yang lalu.

Jongin dan Kyungsoo mengampiri seorang wanita yang merupakan Ibunya Kyungsoo.

“Kyungsoo, ini akibat kau terus bermalas-malasan. Kau mendapat peringkat ke-24 !” sergah ibu-nya.

Kyungsoo hanya menyengir, “Maaf, eomma. Besok-besok aku akan lebih rajin lagi.”

Ahjuma, aku peringkat berapa?” timpal Jongin.

Eoh, kau peringkat ke-27. Kau sudah mendapat perubahan,” sahut wanita itu sembari tersenyum.

Jongin mengangguk, kemudian mengambil raport-nya dari Ibunya Kyungsoo. “Terima kasih, ahjuma, telah mengambilkannya.”

“Hm, sama-sama.”

Jongin menjauhi kerumunan orang-orang di depan kelasnya. Ia menyenderkan tubuhnya di tembok pembatas, kemudian membuka raport-nya, memperhatikan nilai-nilainya yang kebanyakan pas nilai KKM. Syukurlah, meski ia mendapat peringkat ke-27, tapi setidaknya ada perubahan. Semester sebelumnya, ia mendapat peringkat ke-29 dari 32 siswa.

Perubahan itu terjadi secara bertahap, dan yang perlu dilakukan Jongin hanyalah terus berusaha, selagi masih ada kesempatan.

“Jongin, kau masih memiliki kesempatan,” ucap Krystal tiba-tiba.

“Kesempatan apa ?”

Krystal tidak menjawabnya, karena ia tahu Jongin hanya berpura-pura tidak mengerti.

“Jongin, ayo pulang~” panggil Kyungsoo.

“Oh, ne. “ Jongin langgsung berjalan ke arah Kyungsoo untuk pulang bersama, tanpa mengucapkan suatu kata apapun pada Krystal sebelumnya.

Krystal memperhatikan kepergian Jongin yang tengah berjalan dengan Kyungsoo dan ibu-nya dari tempatnya berdiri tadi. Ia tetap memandang kesana, meski mereka sudah berada diluar gerbang sekolah, hingga tidak terlihat lagi dimatanya.

“Krystal…” panggil ayahnya, membuyarkan keterdiaman anaknya.

Krystal menoleh ke ayah-nya dan mendekatinya. “Aku dapat berapa, appa?”

Ayah-nya menyerahkan raport itu pada anaknya. “Peringkat mu menurun, kau peringkat ke-6.”
Krystal hanya mengangguk tidak peduli dengan peringkatnya.

‘Hari ini, aku terlalu banyak memperhatikanmu, Jongin. Apa karena besok? Ah… aku malas sekali!’
.
.
.
.
Jongin menggeliat dari tidurnya, kemudian mengarahkan fokus matanya ke sebuah jam yang menempel di dinding kamarnya. 06.05.

Ia tidak bisa tidur nyenyak tadi malam. Meskipun hari ini ia tidak ikut liburan, tapi ‘suasana akan pergi liburan’ itu tetap terasa. Ia bahkan tidak ingat sudah berapa kali terbangun tadi malam.

Jongin turun dari ranjangnya, setelah menepuk agak keras pantat adiknya dikarenakan cara tidurnya yang serakah.
.
.
.
.
Krystal berjongkok di depan gerbang sekolahnya. Ini… bahkan belum naik Bus, tapi Krystal sudah merasa mual.

Kepala terasa pusing, mual, kemudian muntah. Ini yang menjadi ‘hambatan’ Krystal. Jika naik Bus, ia selalu mual. ‘Rasa ingin’ itu sudah dimulai sejak ia masih kecil. Intinya, ia tidak mau berpergian jika menggunakan kendaraan beroda empat atau lebih.

“Ugh… Cha Mi bilang jam enam harus sudah kumpul, tapi sekarang mana?” keluhnya pada Amber.

“Iya, aku juga tidak tahu. Cih, bahkan Cha Mi sendiri belum datang! Padahal kemarin dia juga yang ngotot.”

Saat ‘meeting’, Cha Mi memang mengusulkan jam enam pagi harus sudah ada di sekolah, tapi sekarang lihat… bahkan yang sudah datang di sekolah, baru Krystal dan Amber.
.
.

Dua puluh menit berlalu…

‘Hup..’

Sehun mengangkat sebuah Dus minuman dari meja kasir, setelah membayarnya. Ia keluar dari Minimarket yang terletak di samping sekolahnya. Minuman itu untuk nanti di perjalanan.

“Dingin, apa, Kryst ?” tanya Sehun, saat akan mengantarkan Dus itu ke Bus, tapi ia berhenti di depan gerbang sekolah, karena ia melihat Krystal disana, tengah menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya.

“Ehmmm.. tidak,” jawabnya, setelah beberapa detik terdiam.

‘Aku tidak kedinginan, Sehun, tapi… aku mual. Itu, jika kau ingin tahu.’
.
.
.
.
To Be Continued.

 

Advertisements

tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s