Namitsutiti

Can We Be Together ? [Chapter 2]

2 Comments


canwebetogether

[Credit : poster by Junghara @ ARTFantasy ]

Tittle » Can We Be Together ?

Author » Namitsu Titi

Rate » PG-13

Genre » Friendship, School-life, sad.

Main Cast » Yoo Ara [HELLO VENUS], Park Chanyeol [EXO]

Others Cast » Lime [HELLOVENUS], Alice [HELLOVENUS], etc.

Disclaimer » Semua cast milik orang tuanya masing-masing dan Tuhan YME. Popularitas Cast milik agency dan diri nya masing-masing. tapi, alur cerita milik saya.

.

© 2014 Namitsu Titi

.

.
~Happy Reading~

.

.

.

.

Ara meringkuk di kasurnya. Matanya terpejam tapi ia tidak tidur. Ia sedang memahami apa yang terjadi pada sore tadi. Lagu mellow yang bersumber dari handphone-nya juga ikut mengisi keheningan yang ada.
.
.
.
.
~Flashback on~

 

At Lime’s house.

 

“Ara~!” panggil Alice yang masih berada di ambang pintu.

“Apa ?” jawab Ara sambil menengok ke arah Alice, kemudian meneruskan kembali mengerjakan soal-soal yang tertera di bukunya.

“Cepat kesini ! Ada yang ingin aku bicarakan,” titahnya.

Dengan malas Ara bangkit dari duduknya, lalu mendekati Alice yang masih berdiri disana. Ia sempat merutuki sahabatnya itu. Kenapa bukan Alice saja yang masuk dan mendekatinya, bukan malah tetap berdiri disana dengan… gelisah ?

“Chanyeol kecelakaan,” bisik Alice setelah Ara sampai didekatnya.

 

‘Deg…’

 

Rasa khawatir langsung saja tercipta di diri Ara. Matanya mulai berair. Untung ia tak sampai meneteskan air mata.
Apa yang harus ia lakukan ? Haruskah menengoknya ?

Syukurlah, rasa khawatirnya sedikit menurun saat Alice menjelaskan bahwa Chanyeol hanya luka ringan saja. Namun, ada rasa lain disini. Hatinya. Ini, Ara juga tak tahu. Ia pertama kalinya merasakan ini. Ara merasa dadanya sesak dan itu bukan dikarenakan kecelakaan Chanyeol tapi karena Alice. Ara merasa sesak saat melihat betapa khawatir dan paniknya Alice terhadap Chanyeol. Ara saja tak se-panik dan khawatir itu.
Ara sangat tahu bahwa Alice hanya menganggap Chanyeol sahabat, tapi kenapa rasanya bisa sesak seperti ini ?

 

~Flashback off~
.
.
.
.
Ara duduk diam di kursinya. Biasanya sebelum jam masuk seperti ini, ia sedang bercandaan atau mengobrol dengan teman-temannya. Tapi, pagi ini ia memilih diam. Meskipun diam, namun hatinya sangat khawatir.

Apakah hari ini Chanyeol berangkat sekolah ?

Tak lama, Chanyeol memasuki kelas. Cara berjalannya sedikit pincang dan ia tidak memakai sepatu melainkan sendal. Sikut lengan kanannya juga terluka. Luka akibat pergesekannya dengan aspal.

Ara hanya menatap sedih dengan kondisi Chanyeol sekarang. Memang, apa yang harus dilakukannya ?
Tidak ada. Bahkan untuk menanyakan kabarnya secara langsung pun, ia tidak bisa. Namun jauh di dalam hatinya, ia ingin sekali menanyakan kabarnya. Sangat ingin. Tapi mau bagaimana lagi. Meskipun ia melakukannya, Chanyeol hanya akan menganggap kepedulian Ara sekedar sapaan biasa.
.
.
.
.
Tanggal 27 November adalah hari ulang tahun Chanyeol. Hanya sebelas hari lagi ‘hari’ itu terjadi dan Ara bingung. Ia harus mengucapkan selamat atau tidak. Pasalnya, selama ini Ara belum pernah mengucapkan ‘kata’ itu ke Chanyeol.

Kini adalah tahun ketiga mereka di Seoul International High School. Berarti, tahun ini merupakan ulang tahun terakhir Chanyeol saat masa SMA. Ara harus mengucapkan untuk terakhir kalinya atau tidak pernah sama sekali ?

“Lime~ tanggal 27 November Chanyeol ulang tahun. Aku harus mengucapkan tidak, ya ?” tanya Ara pada teman sebangkunya.

Jam istirahat pertama telah tiba dan mereka memutuskan tidak ke kantin. Selain tdak lapar, jam istirahat pertama hanya lima belas menit.

“Ngucapin saja. Tapi lewat SMS saja, kan lumayan bisa SMS-an dengannya,” sarannya.

“Hmmm… benar juga, ya. Okay, aku ikuti saranmu.” Tersenyum senang.
.
.
.
.
~Lab. Computer~

 

Semua siswa yang ada di ruangan itu sibuk dengan apa yang sedang dilakukannya. Ada yang sedang fokus sendiri, ribut karena bertanya ke temannya, dan ada juga yang mengerang frustasi.

Ya, mereka sedang ulangan praktik tentang mengkonfigurasi jaringan.Tidak sedikit yang mengeluh tentang kegagalannya.

Tiga puluh menit pun berlalu. Chanyeol, Lime, dan kedua teman lainnya telah selesai mengerjakannya.

“Chanyeol, ini sih gimana ?” teriak seorang gadis, meminta bantuan pada Chanyeol.

“Chanyeol, ini kenapa tidak connect ?” timpal teman lainnya.

Chanyeol berjalan kesana kemari untuk membantu temannya. Padahal, lukanya belum sembuh. Tapi, ia tetap berjalan kesana kemari demi temannya.

Ara yang sedari tadi mendengar teman sekelasnya terus meminta bantuan pada Chanyeol, ia merasa kasihan. Pasti rasanya sakit saat ia akan berjongkok mendekati temannya.

Sebenarnya Ara juga sama dengan yang lainnya. Ia juga gagal terus.

‘Hm, tidak ada salahnya kan meminta bantuan pada Chanyeol ? Pasti dia mau membantuku juga,’ pikirnya.

“Chanyeol~” panggil Ara agak keras. Tapi sayang Chanyeol tidak menoleh. Ara agak kecewa juga saat Chanyeol tak menengok. Tapi ia memaklumi karena Chanyeol sedang sibuk mengajari temannya.
.
.
Makin lama Ara frustasi. Ia sudah mencoba cara-cara lain tapi tetap tidak berhasil. Ia memutuskan untuk memanggil Chanyeol lagi agar membantunya. Lagipula, Chanyeol sedang tidak mengajari melainkan mengawasi.

“Chanyeol~!” kali ini Ara memanggil pemuda itu lebih keras. Tapi… Chanyeol tidak menoleh sama sekali. Padahal, ia yakin suaranya bisa terdengar di telinga Chanyeol. Tapi kenapa begini ?

Ara menundukkan kepalanya. Ia kecewa. Kenapa Chanyeol tidak menengok ? Apa pemuda itu tidak mau membantunya ?
Ara semakin menundukkan kepalanya saat dirasa matanya mulai berair.
.
.
“Chanyeol, sini~” panggil seorang gadis yang berada di dekat Ara.

Chanyeol yang tadinya berada tak jauh di belakang kedua gadis itu, berjalan mendekati seorang gadis yang telah memanggilnya.

“Apa, Mi ?” tanya Chanyeol.

‘Kenapa kau dengan mudahnya mendekati mereka untuk membantunya sedangkan aku… tidak sama sekali, Chan ?’

Rasanya Ara benar-benar ingin menangis sekarang.

‘Kenapa setelah kau mengetahui perasaanku, kau jadi seperti ini, Chanyeol ? Kenapa ? Aku merindukan sosokmu yang dulu saat kau masih ramah padaku.’
.
.
.
.
“Ternyata Chanyeol masih menyimpan foto mantan kekasihnya di dompetnya. Aku kira foto itu sudah tidak ada, tapi ternyata dia menyelipkannya,” ujar Alice.

Kini, jam pelajaran tengah kosong. Saat Ara sedang berdiam di kursinya, Alice meminta Ara untuk duduk didekatnya.

Ara hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan Alice. “Apa Chanyeol masih mencintainya, ya ? Iya sih, pacar pertama. Tapi dulu aku tidak sampai begitu. Kira-kira sampai kapan ya, dia seperti itu ?” tanya Alice.

“Hmmm… ya…” Ara bingung harus menjawab apa. Jadi, ia lebih memilih untuk menggantungkan jawabannya.

Chanyeol akan sampai kapan tetap mencintai mantan kekasihnya ? Ara juga tidak tahu. Pertanyaan tersebut, sama seperti pertanyaan pada dirinya.
Sampai kapan Ara tetap menyukai Chanyeol ?
.
.
.
.
Ara berjalan lesu memasuki kelasnya. Kepalanya terasa pusing. Masa-masa menjelang flue memang menyusahkan.

Sebelum jam masuk berbunyi hingga jam istirahat pertama, Ara tak banyak bicara. Istirahat pun, ia memilih tidur dengan menaruh kepalanya di atas meja.
.
.
Acara tidurnya terusik saat Alice mengusap kepalanya. Ara langsung bangun, kemudian mengelap wajahnya yang berkeringat.

“Kau yang mengusap kepalaku ?” tanya Ara sesaat setelah mengangkat kepalanya.

“Iya. Cuma memastikan. Panas atau tidak,” jelasnya, kemudian menyentuh kening Ara, tapi gadis itu langsung menghindarinya.

“Aku baik-baik saja.”
.
.
“Itu permennya dari Naeun,” ucap Alice sambil menunjuk pada beberapa permen di atas meja dekat lengan Ara.

Ara memberikan satu permen pada Alice karena sang sahabat memintanya.

Lime mendekati meja Ara dan gadis itu memberikan satu permennya pada Lime. Tinggal tersisa dua.

“Ini untuk Chanyeol satu, ya ?” tanya Alice yang sudah mengambil permen yang tersisa.

Awalnya Ara diam saja, tapi ia baru sadar dengan ucapan Alice. “Jangan !” teriak Ara seraya merebut permen itu dari genggaman sahabatnya. Tapi ia tidak berhasil.
.
.
“Dari siapa, Lice ?” itulah suara Chanyeol yang terdengar di telinga Ara.

Ara menundukkan wajahnya, malu. Jangan-jangan Chanyeol mendengar pembicaraannya dengan Alice ? Pikirnya.
Setelah itu ia tak mendengar suara Chanyeol maupun jawaban dari Alice.
.
.
“Dari Ara. Aku punya dua. Jadi, yang satu untukmu,” jawab Alice sedikit berbohong. Kemudian ia melanjutkan acara menyapunya.

Chanyeol terlihat fokus memperhatikan permen itu dalam diam. Entah apa yang ada di pikirannya saat menatap permen itu.

Hyung ! Buat aku saja ya, permennya !” pinta Jongin sembari meraih permen itu.

Chanyeol langsung menjauhkan permen itu dari Jongin. “Jangan ! Ini dari Alice,” katanya.

.

.

.

.

To Be Continued

 

Udah baca, kan ? nahhh sekarang jangan lupa tinggalkan komentarnyaaaa 😉 kkkk……………

Advertisements

2 thoughts on “Can We Be Together ? [Chapter 2]

  1. Next Thor….. penasaran nih…

    Like

  2. thor mhon banget next dong pnasarn gmmna klanjutan’ny gmna chanyeol’ny, gmna ara’ny,,, gmna akhrinya… Jebal ya lnjutin d tunggu.. 🙂

    Like

tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s